Friday, October 14, 2016

Legenda Dua Bocah Lelaki di Musim Semi

Legenda Dua Bocah Lelaki di Musim Semi
Alkisah, di negeri Cina, hiduplah dua sepupu bernama Liu Chen dan Yuan Chao. Mereka sangat akrab. Ke mana pun yang satu pergi, yang lain selalu mengikuti.

Kala musim semi tiba, ibu Lui Chen dan ibu Yuan Chao mengirim anak-anak mereka ke sungai untuk mengambil air. Kedua bocah ini pun berangkat membawa ember kosong.

Namun, setibanya di sungai, Lui Chen dan Yuan Chao terkagum-kagum melihat padang rumput yang indah di sekitarnya. Padang itu dipenuhi bunga-bunga yang sangat cantik.

"Kita main sebentar, yuk," ajak Liu Chen. Yuan Chao setuju. Maklum, mereka baru melewati musim dingin yang membuat mereka lama terkurung di rumah.

Maka, dua bocah lelaki ini meninggalkan ember mereka di dekat sungai, lalu berlari dan berkejaran di padang rumput. Mereka berjongkok untuk menghirup wangi bunga yang bermekaran, memanjat pohon, dan berlari naik turun bukit. Lui Chen dan Yuan Chao merasa sangat bahagia.

"Ayo, kita petik bunga-bunga ini untuk dibawa pulang dan kita berikan pada ibu kita," kata Lui Chen. Bersama sepupunya, ia lantas sibuk memilih bunga-bunga paling indah.

Karena asyik memetik bunga, kedua bocah ini tidak menyadari bahwa mereka sudah berjalan terlalu jauh dari sungai.

Saat sedang terus berjalan, Lui Chen dan Yuan Chao sampai di depan sebuah gua. Di depan pintu gua, ada dua sosok peri anggun yang duduk di atas batu besar. Peri-peri itu sedang bercakap-cakap.

Langkah Liu Chen dan Yuan Chao terhenti. Dua bocah ini tidak tahu harus berbuat apa, jadi mereka diam saja di tempat mereka sambil menatap peri-peri itu.

Tak lama, seekor kelinci muncul di depan mereka. Kelinci itu sibuk melompat-lompat. Ajaibnya, setiap kali kelinci itu melompat naik, bunga-bunga bermekaran di bawahnya. Sebaliknya, setiap kali hewan itu memijak tanah, bunga-bunga tersebut layu dan mati.

Naik dan turun, naik dan turun. Bunga-bunga bermekaran, lantas kembali layu.

Liu Chen dan Yuan Chao menyaksikan kelinci ini dengan takjub. Setelah waktu yang cukup lama, kelinci itu akhirnya hilang dari pandangan mereka.

Tiba-tiba, salah satu peri di depan gua menyadari keberadaan dua bocah itu. "Wahai anak-anak, sedang apa kalian di sini?" tanya peri pertama dengan kaget.

"Eh... kami... kami tadi sedang asyik memetik bunga, lalu tanpa sadar kami terbawa ke sini, " ujar Liu Chen. Sepupunya mengangguk mengiyakan.

"Sudah berapa lama kalian berada di sini?" tanya peri kedua/

"Sepertinya cukup lama," jawab Yuan Chao.

Peri pertama menatap peri kedua.

"Wah, celaka," katanya.

Peri kedua bangkit dan menghampiri Liu Chen dan Yuan Chao. "Anak-anak, karena kalian sudah cukup lama di sini, sebaiknya kalian jangan kembali ke desa, " ujarnya.

"Mengapa tidak boleh?" tanya Liu Chen.

"Percayalah, kalian akan menyesal jika kalian pulang ke rumah sekarang. Tinggallah di sini," kata peri kedua lagi.

Kedua bocah itu saling berpandangan. "Tapi, Peri, ibu kami menunggu kami. Kami harus membawa pulang ember berisi air sungai kepada mereka, " sahut Yuan Chao.

Dengan wajah sedih, peri pertama berkata, "Maaf Nak, tapi kalian tidak akan menemukan ibu kalian saat pulang nanti. Sebaiknya kalian tinggal di sini."

Kedua bocah itu menggeleng. "Tidak bisa. Keluarga kami pasti mencari-cari kami," kata Liu Chen.

"Mereka juga sudah tidak ada, " kata peri kedua.

"Kalau begitu, kami benar-benar harus pulang sekarang," Yuan Chao berkeras.

Kedua peri menghela napas. Akhirnya, peri pertama berkata, "Jika kalian berkeras ingin kembali, maka bawalah alang-alang ini." Ia lalu memberikan sebatang alang-alang kepada masing-masing anak.

Peri kedua menambahkan, "Kalau kalian mendapati segala sesuatu telah berubah di desa kalian, segeralah kembali ke sini. Jika gua ini sudah tertutup, lambaikan alang-alang itu, dan pintu gua akan terbuka."

Liu Chen dan Yuan Chao mengangguk. Mereka berterima kasih pada para peri, lantas berbalik dan berlari pulang.

Ketika tiba di sungai, mereka menyadari keanehan di sana. Hamparan bunga musim semi sudah berganti dengan pohon-pohon tinggi. Sungai yang tadi mengalir deras sudah mengering.

Kedua bocah itu mencari ember mereka, tapi tidak menemukannya. Saat panik mencari, mereka kehilangan alang-alang pemberian para peri.

"Sudahlah, kita tinggalkan saja ember-ember itu. Ayo, sabiknya kita segera pulang, " kata Liu Chen.

Yuan Chao setuju. Dua bocah itu pun berlari pulang. Sepanjang perjalanan, mereka menyadari banyak perubahan di sekitar mereka.

Saat tiba di desa, Liu Chen dan Yuan Chao tidak bisa menemukan rumah mereka. Alih-alih desa yang mereka kenal, kini di sana terhampar padang yang gersang. Tidak ada siap-siapa di situ, kecuali dua lelaki tua yang sedang duduk bermain catur.

"Permisi, " sapa Liu Chen. "Apakah Bapak tahu ke mana keluarga kami pindah?"

Kedua lelaki tua itu mengangkat kepala. "Siapa kalian?" tanya salah satu dari mereka.

"Kami adalah Liu Chen dan Yuan Chao."

Mendengar nama tersebut, kedua lelaki tua itu menggelengkan kepala tak percaya. "Jangan mempermainkan nama dua leluhur kammi," dengus salah satu bapak tua. "Kami adalah generasi ketujuh dari keturunan ketujuh dari nama-nama besar yang kalian sebutkan."

"Ta-tapi itu tidak mungkin, " kata Liu Chen. "Kami masih anak-anak."

Kebingungan, dua bocah tersebut mencoba memikirkan apa yang telah terjadi. Mereka teringat kelinci yang melompat naik turun dan bunga-bunga yang bermekaran dan layu di bawah kaki kelinci.

"Mungkin, setiap lompatan kelinci itu mewakili satu musim, " ujar Liu Chen.

"Kalau benar, berarti... kita sudah pergi ke sungai selama lebih dari beberapa jam," ujar Yuan Chao.

Mereka mencoba menghitung-hitung. Kelihatannya mereka tidak hanya pergi selama beberapa jam. Melihat banyaknya lompatan kelinci yang mereka saksikan, Liu Chen dan Yuan Chao sudah pergi selama... lebih dari 100 tahun!

Kedua bocah itu menggelengkan kepala. Ini mustahil.

Mereka kembali mendekati dua lelaki tua yang bermain catur.  "Tolonglah pak, kami adalah Liu Chen dan Yuan Chao," kata mereka lagi. "Pasti kalian kenal kami, atau orangtua kami."

Kini, dua lelaki tua itu benar-benar marah. Mereka berdiri dan menghardik, "Kalian ini anak-anak iseng ya?" Pergi sekarang juga, atau kami akan menghukum kalian karena telah mempermainkan nama nenek moyang kami!"

Melihat kemarahan kedua lelaki tua itu, Liu Chen dan Yuan Chao segera angkat kaki dan berlari secepat mungkin. Mereka terus berlari sampai tiba di depan gua para peri.

Mereka mendapati gue itu sudah tertutup.

"Kita butuh alang-alang!" Tapi, dua boca lelaki itu tidak ingat di mana mereka meletakkan tanaman pemberian peri itu.

Liu Chen dan Yuan Chao saling menatap dengan ketakutan. Mereka menggedor pintu gua yang tertutup rapat.

"Tolong biarkan kami masuk," mereka memohon sambil menangis. Akhirnya, kelelahan dan kelaparan, kedua bocah lelaki itu mengembuskan napas terakhir.

Penguasa alam semesta berbelas kasih pada mereka. Kedua bocah itu diangkat ke langit dan dijadikan dewa. Liu Chen dewa keberuntungan, Yuan Chao dewa kemalangan. Dan sejak hari itu, begitulah mereka dikenang.


Baca juga:
  1. Rubah Yang Lapar
  2. Pesan Di Balik Tawa Manusia Duyung
  3. Kartini Menerangi Indonesia

Sunday, March 6, 2016

Rubah Yang Lapar

Pada suatu hari yang panas, rubah sedang berburu tetapi ia tidak sedang beruntung. Sat ia berjalan di sebuah jalan yang kotor, perutnya berbunyi begitu keras sehingga ia nyaris tidak bisa mendengar angin musi panas. Tetapi ia tiba-tiba mendengar sebuah lagu yang begitu keras sehingga tidak dapat mengdengar suara erangan perutnya yang lapar.

"APakah itu suara Kutilang bernyanyi?" tanya rubah kepada dirinya sendiri, dan ia mengendap ke balik semaik untuk menginati.

Tiba-tiba, ia melihat bulu seekor burung Heorn dan rubah bersiap untuk menerkamnya. Tetapi saat ia memperhatikan, bulu itu aik semakin meninggi. Segera saja ia melihat bahwa tidak ada burung yang merekat pada bulu itu. Ia malah melihat bahwa bulu itu terekat pada topi yang dikenakan oleh seorang pria jangkung yang kuat dan sedang menunggang kuda.

Rubah mulai gemetar. "jika orang itu melihatku, ia akan memanah aku," ucapnya. Ia meringkuk menyembunyikan diri. Kuda dan pria itu semakin mendekat. Rubah dapat mendengar kata-kata yang dinyanyikan oleh pria itu, sebuah lagu yang penuh keberanian dan keangkuhan.

"Aku adalah Bulu Heran, pria muda yang paling berani dan tampan. Tidak ada orang yang lebih kuat atau pintar. Dan tidak ada nelayan yang lebih baik! Kekasihku pasti ingin menikah denganku." Sekarang Rubah paham. Bulu Heron sedang berangkat menemui gadis impiannya, dan pakaiannya, kudanya serta lagunya dimaksudkan untuk membuat kekasihnya terkesan. Tetapi yang paling mengesankan bagi Rubah adalah kantung yang dibawa oleh Bulu Heron, kantung yang diikat ke gulungan selimutnya.

Rubah mengendus udara. Ya, benar! Kantung itu penuh dengan ikan segar! Pada saat itulah ketakutannya menghilang. Ia harus mendapatkan ikan-ikan itu! Rubah begitu lapar sehingga ia tahu bahwa harus mendapatkan kantung itu!

Ia lari menembus semak, sejajar dengan jalan, tanpa pernah membiarkan Bulu Heron hilang dari pandangannya. Ia lari sekencang mungkin sampai ia berada di depan kuda. Kemudian ia berbaring di jalan, memejamkan mata, membuka mulut dan membiarkan lidahnya menjulur keluar.

Ia menunggu sampai ia mendengar lagu Bulu Heron mendekat. "Dia, perut!" bisiknya kepada perutnya yang mengerang lapar, dan betul saja, begitu Bulu Heron mendekat, ia melihat Rubah terbaring di jalan. "Oh, lihat itu!" tawanya. "Betapa eloknya rubah kuning ini! Kekasihku akan terkesan jika aku membawa bulunya kepadanya!"

Bulu Heron berhenti dan melompat turun dari kudanya. Ia memungut ranting dan menusuk-nusuk Ruba. Rubah berdiam diri.

"Hmmm," kata Bulu Heron, dan ia membungkuk untuk mencermati Rubah dan menyentuh bulunya. "Halus sekali. Aku akan membawanya bersamaku." Ia membalik dan membuka ikatan kantungnya- kantung yang penuh ikan lezat.

"Ketika kekasihku melihat rubah ini," ujar Bulu Heron, "ia akan tahu betapa hebatnya aku. Dia bukan hanya akan tahu bahwa aku adalah nelayan yang hebat, ia akan tahu bahwa aku adalah pemburu yang hebat."

Memang benar, Bulu Heron tidak menangkap ikan-ikan itu, ia membelinya dari temannya. Tetapi ia adalah pria muda yang angkuh, dan dusta tidak menjadi masalah baginya. Jadi ia mengangkat Rubah dan memasukannya ke dalam kantung. Kemudian ia menutup kembali kantungnya, enaiki kudanya dan melanjutkan perjalanan.

Ia mulai menyanyi tentang kehebatannya dirinya sebagai seorang pemburu. "Pemburu terbaik di negeri ini, Bulu Heron! Ia akan menjadi suami yang sempurna!" Selama beberapa menit, Rubah hanya mendengarkan. Ia menahan diri, meski ia ingin tertawa terbahak-bahak. Tetapi setelah ia yakin bahwa Bulu Heron tidak sedang memperhatikan, ia mulai menggigiti kulit kantung. Ia terus menggigit sampai terbentuk sebuah lubang yang cukup besar. Kemudian satu per satu, ia menjatuhkan ikan keluar dari kantung.

Ketika semua ikan sudah keluar, ia menggigiti lagi kulit kantung sampai lubangnya cukup besar untuk meloloskan diri. Rubah memakan sendiri semua ikan itu. "Oh, betapa eloknya aku!" nyanyi sang Rubah. "Aku telah mengelabhui Bulu Heron!"

Sementara itu, Bulu Heron terus berjalan ke rumah kekasihnya, dan di sana ia berhenti. Ia mulai menyanyi, "Aku adalah Bulu Heron, nelayan dan pemburu terbaik di negeri ini, aku datang membawa hadian untuk semua orang!"

Segera saja orang-orang mulai berkumpul, termasuk Ranting Mengayun dan ibunya, "Mari kita lihar kelimpahanmu," kata ibu Ranting Mengayun, dan Bulu Heron meraih kantungnya.

"Engkau akan melihat hadiah-hadiah yang jaya dari Bulu Heron," nyanyinya, dan ia merogoh kantungnya. Begitu ia menyentuhnya, ia tahu bahwa ada yang tidak beres. Ia menoleh dan memperhatikan. Sebuah lubang besar menganga di alas kantungnya yang kosong. Untuk pertama kalinya pada hari itu ia berhenti bernyanyi. Ia menatap ke bawah kepada kekasihnya dan ibunya dan wajahnya memerah, "Omong konsong besar!" Semua orang mulai tertawa.

Merasa malu, Bulu Heron hanya memutar kudanya dan segera berlari pergi. Kali ini ia tidak bernyanyi, tetapi pasti Rubahlah yang bernyanyi.





Belajar Bahasa Inggris Di Jakarta


Tuesday, July 9, 2013

Pesan Dibalik Tawa Manusia Duyung

Alkisah, di pinggir kota pelabuhan bernama Hofn, Iceland, hiduplah seorang nelayan bersama istrinya. Setiap hari, nelayan itu mengayuh perahunya ke laut untuk menjala ikan. Kadang ia beruntung, kadang tidak terlalu beruntung.


Nelayan itu pernah mendengar kabar bahwa di daerah tempat tinggalnya terpendam satu peti emas. Namun, ia tidak tahu di mana harta itu berada. Tidak mungkin kan, dia menggali setiap jengkal tanah di sekitar rumahnya? Akhirnya, sang nelayan hanya memendam impian agar bisa menemukan emas tersebut dan ia tidak perlu bersusah-payah menjala ikan setiap hari.

Suatu kali, seperti biasa nelayan itu menebar jala ikannya ke tengah laut. Tak lama, ia merasakan sentakan kuat. Nelayan itu langsung bersemangat. Ia membatin, “Hari ini aku pasti dapat ikan besar!”.

Nelayan itu mulai menarik jala ikannya. Semakin lama, jala tersebut terasa semakin berat, jauh lebih berat dari biasanya. Nelayan itu menarik dengan segenap tenaga, sampai akhirnya isi jala tersebut tampak olehnya. Betapa terkejutnya nelayan itu ketika melihat bahwa bukan ikan yang ia tangkap, melainkan sesosok pria dengan kepala dan tubuh manusia, namun kakinya berbentuk ekor ikan.
“Siapa kamu?” tanya nelayan itu, terheran-heran melihat sosok ganjil tersebut. Ia pernah mendengar tentang manusia duyung, yang bertubuh separuh manusia dan separuh ikan. Namun, ia kira makhluk tersebut hanya berada di dalam dongeng. Nelayan itu tak pernah menyangka bahwa manusia duyung benar-benar ada, dan bahwa dia akan bertemu langsung dengan salah satunya.

Manusia duyung itu melihat keraguan si nelayan, ia pun membuka mulut dan berbicara, “Wahai nelayan, aku adalah manusia duyung yang berasal dari dasar lautan. Karena engkau sudah melihatku dengan mata kepalamu sendiri, engkau harus percaya bahwa kami memang ada.”

“Tapi kenapa kau bisa terjerat di dalam jala ikanku?” tanya nelayan itu penasaran. Dalam berbagai cerita yang ia pernah dengar tentang manusia duyung, ia tahu bahwa makhluk itu selalu menghindari manusia.

“Aku tadi sedang lengah,” si manusia duyung mengaku. “Sekarang, tolong lepaskan aku. Aku tidak bisa hidup di darat. Keluargaku menungguku di dasar laut.”

Nelayan itu berpikir sejenak. Ia mencoba mengingat cerita-cerita yang pernah ia dengar tentang manusia duyung. Aha! Menurut salah satu cerita tersebut, manusia duyung bisa memberi hadiah yang bernilai pada manusia. Nelayan itu memutuskan untuk tidak melepaskan manusia duyung tersebut. Tidak sebelum ia mendapatkan hadiah.

“Aku ingin hadiah,” kata nelayan itu.

Manusia duyung itu tak langsung menjawab. Ia melihat alam di sekitarnya. Ada rubah kutub berlarian di atas rumput, ada rusa sedang minum di tepi air, dan ada burung puffin yang bersantai di sarangnya di atas tebing. Alam di atas laut memang indah, tapi ini bukan dunianya. Ia seharusnya berada di bawah laut.

Selagi manusia duyung berpikir, nelayan itu mengangkutnya ke atas kapal. “Aku akan membawamu ke darat, untuk melihat apa yang bisa aku dapatkan darimu.”

Sang nelayan mengikat manusia duyung ke perahunya dan mengayuh perahu itu ke tepi pantai.
Setibanya di pantai, seekor anjing tampak berlari menyongsong mereka dengan gembira. Anjing itu adalah milik si nelayan. Melihat tuannya pulang hewan itu menggonggong riang dan meloncat-loncat penuh semangat.

Namun, alangkah sedihnya, nelayan itu malah mengacuhkan anjingnya karena ia merasa tidak punya waktu untuk bermain-main. Si nelayan bahkan mengusir anjingnya agar tidak menghalangi jalannya.
Merasa sedih karena diabaikan, ekor anjing itu terkulai. Kepala hewan itu tertunduk lesu dan ia berjalan pergi. Manusia duyung yang menyaksikan semua itu mendadak tertawa keras. Namun, si nelayan terlalu sibuk menambatkan perahunya sehingga ia tidak memperhatikan tawa manusia duyung tersebut.

Ketika kapal sudah tertambat dengan aman, nelayan itu menjulurkan kedua lengannya ke atas kapal dan mengangkat manusia duyung ke atas pundaknya. Ia berencana untuk berjalan sambil memanggul manusia duyung tersebut sampai ke rumahnya di atas bukit. Ini bukan hal yang mudah karena manusia duyung itu bertubuh besar.

Ketika si nelayan berjalan mendaki bukit menuju rumahnya, ia tersandung gundukan tanah. Hampir saja ia terjatuh. Karena kesal, nelayan itu memaki gundukan tanah tersebut. Lagi-lagi manusia duyung melakukan hal aneh lagi, ia tertawa keras kembali.

Sayang, nelayan tersebut begitu fokus membopong manusia duyung yang berat itu, sehingga ia tidak terlalu memikirkan tawa yang tidak pada tempatnya itu.

Ketika nelayan akhirnya tiba di rumah, istrinya keluar untuk menyambutnya, “Oh suamiku, betapa aku merindukan dirimu selama kau pergi!” kata wanita itu.

Di pundak nelayan, manusia duyung kembali tertawa keras. Kali ini, nelayan itu merasa terganggu. Ia bertanya pada manusia duyung, “Kenapa sih kau selalu tertawa? Memang ada yang lucu?”

“Aku hanya tertawa tiga kali kok,” sahut manusia duyung.
“Tapi kenapa kau tertawa? Apa yang kau tertawakan?” tanya si nelayan.
“Aku tertawa setiap kali kau bertingkah seperti orang bodoh,” sahut manusia duyung.
“Pertama kali aku tertawa karena kau mengacuhkan anjing peliharaanmu yang begitu menyayangimu. Hanya orang bodoh yang mengabaikan kasih sayan. Kedua kali aku tertawa karena engkau memaki gundukan tanah, padahal di bawah tanah itu terdapat seperti emas, dan hanya orang bodoh yang mengutuk harta berharga. Kali ketiga aku tertawa karena mendengar kata-kata yang diucapkan oleh istrimu. Dia hanya berpura-pura mencintaimu, dan hanya orang bodoh yang tertipu oleh kepura-puraan.”

“Sekarang, berhentilah jadi orang bodoh. Jadilah orang yang benar dan bebaskan aku,” jelas manusia duyung itu panjang lebar.

Nelayang itu merenungkan kata-kata manusia duyung. “Meski sulit dipercaya apa yang kau katakan memang benar,” kata si nelayan. “Engkau benar tentang anjing peliharaanku. Dia memang sangat menyayangiku. Sekarang, mari kita lihat apakah memang ada sepeti emas di bawah gundukan tanah tadi.”

Dengan membopong manusia duyung di pundaknya, kali ini nelayan tersebut berjalani menuruni bukit, menuju tempat ia sempat tersandung. Setibanya disana, ia mengikat manusia duyung itu ke pohon, lantas mulai menggali. Tak lama kemudian, nelayan itu menemukan sepeti emas, persis seperti yang dikatakan manusia duyung.

“Ternyata kata-katamu tepat! Baik, aku akan melepaskanmu!” ujar si nelayan. Ia membuka ikatan manusia duyung, membawanya kembali ke perahunya, lantas mengayuh perahu itu ke tengah laut. Di sana, nelayan tersebut melepaskan si manusia duyung.

Sebelum sosoknya lenyap di bawah air, manusia duyung itu berkata pada si nelayan, “Engkau telah bertindak benar. Aku akan memberimu hadiah. Ingat kawan! Jangan lagi jadi orang bodoh!”.

Manusia duyung itu menghilang, dan sedetik kemudian, muncul seekor sapi laut berwarna abu-abu dari dalam laut. Sapi laut itu berenang ke tepi pantai seiring dengan perahu nelayan. Setibanya di pantai, nelayan mendapati bahwa sapi laut itu berjenis kelamin betina, dan hewan itu begitu jinak dan menghasilkan banyak susu. les bahasa inggris jakarta

Kini, sang nelayan telah menjadi pria paling kaya di Hofn. Sapi laut tersebut menjadi induk dari sapi darat warna abu-abu yang saat ini hidup di Iceland.

Bagaimana nasib istri nelayan? Tak ada yang tahu! Yang pasti, sejak itu, jika ada yang berhasil menangkap manusia duyung, ia akan mendengarkan pesan di balik tawa makhluk tersebut.   


Sumber : Majalah Media Kawasan, April 2013

Monday, July 8, 2013

Kartini Menerangi Indonesia


Kartini selama ini kita mengenalnya hanya sebagai seorang yang memperjuangkan emansipasi wanita dan merupakan pahlawan bagi kaum wanita. Namun pola pemikiran dari Kartini banyak dari kita yang belum paham. Bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan banyak pemikiran dia mengungkapkan banyak hal mengapa seorang Kartini dikenang sebagai pahlawan bagi kaum perempuan.

Di abad ke 19, dimana ketika itu sebagian besar masyarakat Indonesia masih buta huruf, Kartini muncul sebagai perempuan yang begitu banyak menorehkan pemikirannya untuk bangsa Indonesia. Pemikirannya tentang peranan perempuan dalam keluarga dan masyarakat, Kegelisahannya tentang agama, dan penolakkannya terhadap budaya feodal tertoreh jelas pada tulisan Kartini dalam surat-suratnya.

Surat-surat Kartini untuk pertama kalinya diterbitkan pada 1911 di Semarang, Surabaya, dan Den Haag atas prakarsa Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, Mr Jacques Henry Abendanon dengan judul Door Duisterni tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Volk van Raden Ajeng Kartini.

Karena berbahasa Belanda, surat-surat itu hanya dibaca kalangan terbatas. Pada 1922, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Karya Kartini ini juga sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda dengan judul Ti Noe Poek Ka Nor Tjaan dan bahasa Jawa dengan judul Mboekak Pepeteng.

Habis Gelap Terbitlah Terang hanya memuat segelintir dari ratusan surat Kartini. Namun, dari tulisannya kita menjadi bisa lebih mengerti pergulatan pemikirannya dan bisa memahami mengapa ia pantas menyandar gelar pendekar bangsa. belajar bahasa inggris mudah

Sunday, April 14, 2013

Alfred Nobel : Kisah Dibalik Penghargaan Paling Bergengsi Di Dunia


Nama Nobel selalu dikaitkan dengan penghargaan kemanusiaan. Tak banyak yang tahu beragam sisi hidup si penggagas, yang juga seorang penemu dinamit, penyair yang penyendiri, dan inventor jenius.

Swedia, 21 Oktober 1833, lahirlah seorang bayi laki-laki yang dinamai Alfred, putra keempat dari Immanuel Nobel, penemu dan insinyur sukses yang membangun jembatan dan gedung. Dari pihak ayah, Alfred masih keturunan Olof Rudbeck, ilmuwan terkenal dari abad 17 yang membantu Swedia berkembang pesat.

Ironisnya, meski sang ibu, Andriette Ahlsell, berasal dari keluarga kaya, pada tahun ketika Alfred lahir, ayahnya mengalami kebangkrutan. Perusahaannya ditutup dan ia terpaksa mencari peruntungan di negeri lain, yaitu Finlandia. Andriette sendiri tetap di Swedia untuk mengasuh putra-putranya sambil membuka toko kelontong.

Pada 1842, kondisi keuangan keluarga Nobel kembali stabil, dan mereka semua hijrah ke St. Petersburg, Rusia, dimana Immanuel bekerja sebagai pembuat senjata. Putra-putra Nobel mendapat pendidikan berkualitas tinggi, dan mereka semua tumbuh dengan kecintaan terhadap sains.

Momen Penting Dalam Kehidupan Alfred Nobel


Salah satu momen penting dalam hidup Alfred adalah perkenalannya dengan cairan berdaya ledak hebat bernama nitrogliserin, yang terjadi saat ia menempuh studi teknik kimia di Paris dan dimentori T.J Pelouze, profesor kimia tersohor.

Alfred jatuh cinta pada nitrogliserin ini. Sekembalinya ke Rusia, ia dan ayahnya bahu-membahu mengembangkan zat liar tersebut menjadi bahan peledak komersial. Percobaan mereka terinterupsi oleh kebangkrutan kedua yang dialami oleh Immanuel. Keluarga Nobel harus pulang ke Swedia. Meski begitu, obsesi Alfred akan nitrogliserin tak berubah.

Suatu hari, pada 1863, tragedi terjadi di laboratorium Alfred, tempat ia melakukan serangkaian percobaan intensif untuk mengembangkan nitrogliserin. Laboratorium tersebut meledak dan menggegerkan kota Swedia. Beberapa orang terbunuh, termasuk adik bungsu Alfred, Emil.

Namun, Alfred tidak trauma. Karena dilarang melakukan eksperimen di dalam kota, ia memindahkan laboratoriumnya ke Danau Malaren. Tak lama kemudian, ia berhasil memproduksi nitrogliserin secara massal. Belajar dari tragedi yang menewaskan sang adik, Alfred terus mengembangkan produknya agar lebih aman digunakan. Ia mencampur cairan nitrogliserin yang mematikan dengan pasir kualitas tinggi, sehingga bentuknya mirip pasta gigi yang kemudian ia kemas sedemikian rupa. Alfred Nobel pun resmi menjadi penemu dinamit.

Kariernya menanjak sejak itu. Alfred memperoleh hak paten atas dinamit, yang laris manis dipakai di tambang berlian. Ia dianggap berjasa mengurangi biaya produksi industri pertambangan karena dinamit begitu efektif untuk eksplorasi bahan tambang. Pabrik-pabrik dinamit Alfred menjamur hingga 90 buah di lebih dari 20 negara. Alfred sendiri memilih untuk berbasis di Paris meski ia kerap berpindah-pindah ke berbagai negara, seperti Jerman, Skotlandia, dan Italia. “Rumah adalah tempat saya bekerja, dan saya bekerja dimana-mana,” ujarnya suatu kali.

Selain menciptakan dinamit, otak jenius Alfred terus berinovasi dan ia sukses mengembangkan 355 produk hak paten, dari karet sintetis sampai sutra buatan. Di usia 40, sang ilmuwan yang ahli bicara lima bahasa ini telah mencapai hidup mapan.

Sukses, kaya raya, dan punya kuasa membuat Alfred digelari pengembara paling kaya se-eropa. Sebagai pengembara ia memilih untuk hidup menyendiri dengan tidak menikah dan berkeluarga. Namun, ia memiliki sejumlah teman kepercayaan, yakni Ragnar Sohlman, rekan kerjanya di laboratorium, dan seorang sahabat wanita bernama Bertha von Suttner.

Bertha pernah menjadi sekretaris Alfred, meski hanya sebentar karena wanita itu harus kembali ke kampung halamannya di Austria dan menikah. Persahabatan Bertha dan Alfred terus berlanjut melalui korespondensi. Bertha bukan wanita biasa, ia memiliki kecerdasan tinggi dan pemikiran kritis. Setelah menikah, ia gencar berkarier sebagai aktivis gerakan perdamaian, dan banyak orang menganggap Bertha adalah penyebab Alfred memasukkan kategori Nobel Perdamaian dalam penghargaan yang kelak digagasnya.

Pada 1891, Alfred harus terusir dari Paris yang telah menjadi rumahnya selama 20 tahun. Ketika itu, ia telah menciptakan ballistite, bahan peledak superior tanpa asap yang ia rancang untuk industri pertambangan. Penemuan ini terjadi bersamaan dengan adu canggih peralatan militer antara negara-negara Eropa yang hubungannya sedang tidak stabil. Ballistite jelas menjadi bahan baku ideal untuk keperluan militer.

Alfred menawarkan ballistite pada pemerintah Perancis, namun ditolak. Sebagai pebisnis sejati, ia menawarkan produknya ke pemerintah Italia, yang langsung membelinya. Transaksi bisnis ini menjadi bencana karena media Perancis menuduh Alfred sebagai mata-mata dan citranya jatuh. Dari larangan bereksperimen sampai kurungan penjara, akhirnya Alfred tersudut dan tidak memiliki pilihan selain meninggalkan kota yang ia cintai.

Di Paris, Alfred telah memiliki sebuah rmah megah lengkap dengan istal kuda, perpustakaan, dan rumah anggrek. Ia juga dikenal dalam lingkaran pergaulan kelas atas Paris. Tak heran jika Alfred begitu terpukul dengan peristiwa ini. Ia pindah ke sebuah villa yang tenang di San Remo, Italia, sambil membawa sejumlah souvenir pribadi antara lain lukisan wajah sang ibu, yang ketika itu telah tiada. Ia tidak diperbolehkan membawa laboratoriumnya oleh pemerintah Perancis.

San Remo yang damai menjadi tempat Alfred berteduh dari berbagai kontroversi yang menimpa dirinya. Kepindahan ini juga baik bagi kesehatannya yang sempat dirongrong influenza selama di Paris.
Namun, sekali ilmuwan tetap ilmuwan. Di dekat vilanya, Alfred mendirikan laboratorium tempat ia menenggelamkan diri dalam dunia sains yang ia cintai, sampai maut menjemputnya pada 10 Desember 1896, di saat Alfred berusia 63 tahun.

Ia meninggal dengan tenang tanpa menyadari bahwa surat wasiatnya akan menimbulkan gonjang ganjing.

Surat Wasiat Alfred Nobel


Alfred mengubah surat wasiatnya pada 27 November 1895, setahun sebelum ia meninggal dunia. Konon katanya, perubahan terakhir tersebut dipicu oleh sebuah obituari yang diterbitkan sebuah surat kabar Perancis pada 1888. Surat kabar tersebut secara keliru menulis obituari tentang Alfred, padahal ketika itu,yang meninggal dunia adalah kakak Alfred, Ludwig Nobel.

Membaca obituari tersebut membuat Alfred merenung tentang bagaimana ia ingin dikenang oleh dunia. Karena itu, ia memutuskan untuk mengubah isi surat wasiatnya.

Di dalam wasiat tersebut, Alfred menegaskan bahwa seluruh hartanya harus diinvestasikan dalam bentuk saham dan dipakai untuk mendirikan sebuah yayasan, yang labanya setiap tahun dibagikan dalam bentuk penghargaan bagi orang-orang yang dinilai berjasa besar bagi kemanusiaan.

Banyak yang terkejut mengetahui isi wasiat surat tersebut, termasuk keluarga Alfred yang masih tersisa. Kontroversi dan pro kontra pun terus bergulir, hingga akhirnya penghargaan Nobel pertama baru bisa dilaksanakan lima tahun kemudian, yaitu pada 1901. Sejak itu, lebih dari 550 penghargaan Nobel telah diberikan kepada tokoh-tokoh besar yang dianggap berjasa bagi dunia dalam bidangnya masing-masing, dari kimia, fisika, perdamaian, kedokteran, sastra, hingga ekonomi.

  • Ahli fisika Lawrence Bragg adalah penerima Nobel termuda pada usia 25 tahun, sedangkan ekonom Leonid Hurwicz menjadi penerima Nobel tertua pada usia 90.
  • Sastrawan Jean Paul Sartre dan aktivis perdamaian Vietnam Le Duc Tho adalah dua orang yang pernah menolak Penghargaan Nobel. Sartre menolak karena ia berkomitmen menolak semua penghargaan resmi, sedangkan alasan Tho adalah situasi Vietnam yang tidak stabil.
  • Marie Curie dan segenap keluarga besarnya merupakan keluarga penerima Nobel terbanyak.
  • Tiga orang yang sedang berada dalam tahanan ketika mendapatkan Nobel adalah Carl Von Ossietzky, Aung San Suu Kyi, dan Liu Xiaobo

Friday, April 12, 2013

Aisha Uddin : Demi Islam, Kuhadapi Segala Tantangan


“Keluargaku tak senang. Mereka terus memprotes identitas Muslmiku, terus menginterogasi jika aku mengenakan jilbab,” keluh Aisha Uddin. Laura, demikian nama lamanya sebelum menjadi Muslimah. Namun, demi meleburkan hatinya pada jalan Islam yang lurus, ia kini enggan menggunakan nama itu. Ketulusan dan keikhlasannya menjadi Muslimah rupanya tak berbanding lurus dengan respons orang tua dan keluarganya. Mereka menolak keras keislamannya.
Namun, wanita Inggris ini tetap setegar karang.
Usia Aisha baru menginjak 20 tahun saat memutuskan untuk memeluk Islam. Namun sejatinya, jauh sebelum itu ia telah merasa penasaran dengan Islam. Saaat remaja, ia sering diam-diam ke masjid dekat rumahnya. Ia menyelinap dan bertanya tentang Islam kepada siapa saja yang ada disana. Namun, belum lengkap pengetahuan Aisha tentang Islam, ia dan keluarganya pindah ke kota lain, Birmingham.
Kepindahan keluarganya justru membawa hal positif bagi Aisha. Di Birmingham, Aisha mengenal beragam agam. Ia pun lebih banyak bertemu Muslimin di kota tersebut. “Islam telah menarik minat saya. Islam telah tertangkap mata saya dan saya ingin melihatnya lebih jauh ke dalam. Saya ingin melihat orang-orangnya, budayanya, dan sebagainya. Saya pun terus belajar dan belajar. Bahkan, setelah sekolah dan tinggal di Birmingham, saya benar-benar dikelilingi agama, “ ujar Aisha dengan mata berbinar, seperti dikutip Islam Today.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Aisha untuk mempelajari agam Islam. Hingga memasuki usia 20 tahun, Aisha kian mantap dengan agama ini. Ia pun bersyahadat dan berkomitmen untuk terus memegang teguh keimanan Islam walau apa pun yang terjadi. Dari awal, Aisha telah memiliki firasat bahwa keputusannya ini akan ditentang banyak pihak, terutama keluarga. Meski demikian, hal itu sama sekali tak mengurangi tekadnya untuk berislam, termasuk mengubah penampilannya menjadi Muslimah berjilbab.

“Saya sangat senang akan perubahan itu. Sebelum menjadi Muslim, saya selalu menggunakan celana jeans, hoodies, dan make up yang menor,” kata Aisha malu-malu. Mata birunya bersinar bahagia. Parasnya cantik berbalut jilbab hitam meski tanpa make up.
Kebahagiaan itu sempat meredup tatkala Aisha menemui kenyataan bahwa keluarganya menolak keras keputusannya berislam. Bayangkan, tiba-tiba ia dimusuhi keluarganya. Orang tuanya menuding Aisha sebagai anak yang durhaka dan tidak berbakti. “Keislaman saya dianggap sebagai penolakan, tak balas budi, tak menghormati orang tua yang telah membesarkan saya,” ungkap Aisha sedih.
Meski sedih, Aisha tak mau melepaskan hidayah yang telah ia raih. Ia terus bertahan meski rumahnya seakan penjara baginya. Ia tak diizinkan pergi ke luar rumah untuk mempelajari Islam. Pada saat yang sama, orang tuanya terus berusaha membujuk Aisha agar kembali pada agama sebelumnya.
Ketegangan kian memuncak saat Aisha mengenakan jilbab. Menurut Aisha, ia akan diteror dan diamuk keluarganya jika ketahuan mengenakan jilbab. Namun, Aisha telah bertekad untuk terus berjilbab. Meski keluarga terus meneror, Aisha diam-diam telah mengenakan busana yang menutup aurat tersebut.
Akhirnya, hal yang ditakutkan Aisha pun terjadi. Ia diusir dari keluarga. Ia tak diizinkan lagi menggunakan nama keluarga. Aisha, yang dulu bernama Laura, memilih menggunakan nama Islam selamanya.
Penolakan keras dari keluarga tentu membuat Aisha sedih. Namun, ia tak marah. Buktinya, ia terus berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarga dan memberi pengertian kepada mereka meski tak pernah membuahkan hasil.
Dalam wawancara dengan BBC, Aisha mengaku sedang giat mempelajari Al Qur’an. Ia belajar membaca dan menulis huruf Arab. Meski masih terbata-bata, kini Aisha telah mampu membaca Kitabullah.
Saat ini, Aisha berusia 22 tahun. Artinya, sudah dua tahun ia bertahan di atas tantangan-tantangan yang menguji keimanannya. Terbukti, ia mampu bertahan. Ia masih berislam hingga kini. Ia pun telah menemukan seorang pria Muslim yang kini menjadi suaminya. Ia memang telah kehilangan keluarganya. Namun kini, ia memiliki keluarga baru yang senantiasa mendukung keislamannya.

Bangga Menjadi Muslimah


Islam menjadikan Aisha sebagai pribadi yang lebih baik. Ia merasa kehidupannya berubah sangat drastis. Namun, hal ini bukan karena tantangan yang melandanya, melainkan karena rasa bahagianya hidup sebagai Muslimah.
“Saya sebelumnya seorang pemberontak. Saya selalu mendapatkan masalah di rumah, pergi keluar dan tinggal di luar. Saya juga malas belajar di sekolah,” kata Aisha.
Setelah memeluk agama Islam, Aisha menjadi lebih kalem, merasa sangat tenang dan damai. Tak pernah ia merasa bahagia seperti setelah berislam. Aisha pun lebih senang membaca buku dan mempelajari Al Qur’an. Ia tak lagi liar seperti dulu. Sikapnya pun lebih lembut dan tak suka berbicara keras, apalagi memberontak. belajar bahasa inggris awal
Meski banyak tantangan yang dihadapi dan keluarga terus menentangnya, Aisha tak pernah menyesal memeluk Islam. Sebaliknya, ia merasa amat bersyukur merasakan manisnya hidayah. Ia pun amat bangga memiliki identitas sebagai seorang Muslimah. “Saya bangga dengan diri saya sekarang.”

Friday, March 15, 2013

Perjalanan Hidup Bob Sadino

 Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.


Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100,-. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.

Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya. les bahasa inggris online


Profil dan Biodata Bob Sadino

Nama : Bob Sadino
Lahir : Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama : Islam

Pendidikan :
  • SD, Yogyakarta (1947)
  • SMP, Jakarta (1950)
  • SMA, Jakarta (1953)

Karir :
  • Karyawan Unilever (1954-1955)
  • Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
  • Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
  • Dirut PT Boga Catur Rata
  • PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
  • PT Kem Farms (kebun sayur)