Skip to main content

Legenda Kepala Gundul Burung Buzzard



Pada jaman dahulu kala di negara bagian Amerika Selatan hiduplah seekor kelinci yang bernama Tio Conejo. Sang kelinci ini sangat dikenal senang menjahili teman-temannya. Karena teman-temannya sudah hafal dengan perilaku sang kelinci ini, teman-temannya lebih memilih untuk tidak membalas dendam ketika dijahili oleh sang kelinci.
Suatu ketika di sebuah musim dingin, Tio Conejo ini kelaparan, dan kemudian dia keluar dari sarangnya untuk mencari makanan. Ia melompat dan berusaha untuk mencari buah berry. Biasanya di musim dingin buah berry sangat sulit dicari ketimbang musim-musim yang lainnya.
Ketika Tio Conejo lewat makhluk-makhluk yang lainnya pun bergegas menyingkir karena sudah tahu dengan watak asli sang kelinci yang senang menjahili. Mereka tidak tahu bahwa sang kelinci sebenarnya lagi sangat kelaparan sehingga tidak memperdulikan hal lain selain mencari makan untuk menghilangkan rasa laparnya.
Sejurus kemudian saat Tio Conejo mencari-cari buah berry untuk dimakan, ia menemukan belukar yang masih hijau. Kemudian disibaknyalah belukar tersebut dan ternyata memang dia menemukan buah berry dibalik belukar tersebut.
“Wah ketemu juga yang aku cari-cari!” ujar sang kelinci menggumam di dalam hatinya. Lalu ia pun duduk di dekat belukar tersebut dan mulai memetik buah berry yang ada dan langsung memakannya dengan lahapnya tanpa memperdulikan sekitarnya.
Pada saat Tio Conejo sedang memakan buah berry dengan lahapnya datanglah Tio Zopilote, seekor burung bangkai. Ia saat itu tengah terbang di atas, dan ketika ia melihat ke bawah ada Tio Conejo, sang burung bangkai ini pun langsung terbang rendah dan turun ke bawah ke dekat Tio Conejo.
“Senang melihatmu Tio Conejo!” ujar sang burung bangkai tersebut. Padahal sebenarnya ia tidak begitu suka dengan kehadiran Tio Conejo, karena sang burung bangkai tersebut pernah menjadi korban dari kejahilan dari Tio Conejo. Dan ia sangat menunggu-nunggu saat yang tepat dimana ia bisa membalas kejahilan dari Tio Conejo.
“Hai Tio Zopilote” balas Tio Conejo, aku saat ini lagi sangat kelaparan dan untung aku menemukan buah berry ini disini. Saat itu Tio Zopilote melihat kesempatan emas dia bisa membalas kejahilan dari Tio Conejo, lalu ia berkata, “Wah kau sedang kelaparan ya? Aku tahu tempat dimana kau bisa menemukan lebih banyak lagi makanan yang bisa kau makan disaat musim dingin seperti ini” ujar Tio Zopilote menimpali ucapan dari Tio Conejo.
Mendengar hal itu dari sang burung bangkai, maka Tio Conejo pun melompat kegirangan dan langsung berkata, “Dimana tempatnya Tio Zopilote?? Beritahu aku segera dimana tempatnya!!” ujar Tio Conejo dengan semangat.
Sang burung bangkai pun tersenyum sendiri, sambil berkata, “Tempatnya ada di atas awan itu Tio Conejo! Disanalah terdapat jamuan makan terlezat yang pernah ada. Kami para burung sering pergi dan makan disana. Makanan yang terdapat disana sungguh lezat!”.
Mendengar cerita dari sang burung bangkai Tio Conejo pun jadi lesu dan berkata, “Mana mungkin aku bisa pergi ke atas awan itu Tio Zopilote, aku kan tidak mempunyai sayap! Jadi aku tidak akan pernah bisa juga memakan hidangan lezat yang tersedia di atas awan itu”, sahut Tio Conejo dengan lemah.
Lalu sang burung bangkai pun menjawab, “Ah itu soal gampang! Aku bisa mengantarmu kesana. Nanti kita berdua makan-makan lezat di atas sana. Kau tinggal naik saja ke atas punggungku ini, lalu kita berdua terbang kesana. Gimana?”.

Mendengar sang burung bangkai berkata seperti itu, Tio Conejo pun langsung kembali bersemangat. “Waaahh, terima kasih! Ayo kita berangkat kalau begitu!” ujar sang kelinci.
Tio Zopilote pun menjawab, “Ayo kau juga segera bawa gitarmu, teman-teman yang lain pastinya akan senang juga kalau kau membawa gitar lalu kau menyanyikan beberapa lagu buat kami untuk menghibur saat kita makan-makan di atas sana. Mereka pasti sangat senang mendengar kau bernyanyi, lekaslah kau ambil gitarmu dan kita segera terbang ke atas awan itu.”
Lalu sang kelinci pun menjawab dengan semangatnya, “Tunggulah sebentar! Aku mengambil gitarku dulu yaaa..”. Lalu sang kelinci pun melompat menuju ke sarangnya dan mengambil gitar kecilnya dan kemudian dia bergegas kembali ke tempat dimana sang burung bangkai tersebut berada.
Kemudian Tio Zopilote berkata setelah melihat kedatangan sang kelinci dengan gitar kecilnya, “Sekarang kau naiklah ke atas punggungku, kita segera naik ke atas awan.”
Maka sang kelinci pun mengikat gitar kecilnya di lehernya lalu dia naik ke atas punggung Tio Zopilote sambil tangannya mencengkeram dengan erat leher dari sang burung bangkai. “Oke aku sudah siap!” ujar sang kelinci.
Lalu Tio Zopilote pun segera melesat ke angkasa. Ia terus naik dan naik hingga tinggi sekali, seraya dia berpikir keras gimana cara menjahili sang kelinci tersebut. Sang burung bangkai pun naik begitu tingginya hingga tanah tempat tadi mereka berada dibawah terlihat sangat jauh dan binatang yang berada dibawah terlihat sangat kecil.
“Sekaranglah saatnya aku balas dendam!” ujar sang burung bangkai di dalam hati. Kemudian ia pun berseru kepada sang kelinci, “Hai, maukah kau memainkan sebuah lagu untukku dengan gitarmu? Pastinya aku jadi lebih bersemangat dan perjalanan ini bisa menjadi lebih cepat lagi.”
Sang kelinci pun menjawab,” Ja-jangan sekarang deh! Aku tidak bisa memainkan gitarku saat ini.”, ujar sang kelinci terbata-bata karena ketakutan akan ketinggian yang sekarang mereka berada. Ia melihat ke bawah dimana binatang di bawah tampak terlihat sangat kecil sekali.
Sang burung bangkai pun menjawab, “Kalau begitu aku akan terbang dengan sangat hati-hati agar kau bisa memainkan gitarmu dengan mudah”, sambil ia pun mulai terbang dengan lebih santai. Dan Tio Conejo pun mulai mengambil gitar yang dia ikatkan di lehernya, sembari mencari posisi yang enak agar dia bisa bermain gitar. Lalu sang kelinci pun mulai memainkan gitarnya.
Menyadari bahwa sang kelinci sudah tidak berpegangan ke lehernya lagi, maka sang burung bangkai pun mulai melakukan manuver dengan tiba-tiba, ia mulai terbang berputar-putar, awalnya membentuk lingkaran kecil, lalu zig zag, intinya sang burung bangkai itu sangat ingin menjatuhkan sang kelinci dari atas punggungnya.
“Stop! Stop! Tolong hentikan cara terbangmu yang seperti ini!! Aku bisa jatuh kalau kau terbang seperti ini!”, ujar sang kelinci seraya melepas gitarnya, dan kembali berpegangan ke leher dari sang burung bangkai.
“Ah aku terbang biasa saja kok. Memang aku harus terbang seperti ini karena perbedaan angin, karena angin di bawah dan angin di atas berbeda”, sahut Tio Zopilote.
“Oh, tolong perutku mual! Hentikan Tio Zopilote!”, ujar sang kelinci memohon kepada sang burung bangkai untuk tidak terbang seperti itu lagi, namun sang burung bangkai malah menambah cepat terbangnya dan malah melakukan manuver-manuver yang lebih berbahaya lagi, sambil berkata kepada sang kelinci, “Ini kita sudah dekat kok!”.
“Tolong! Ayo kembali ke Bumi aku mohon Tio Zopilote!”, ujar sang kelinci ketakutan. Namun Tio Zopilote tidak memperdulikan kata-kata dari sang kelinci dan justru melakukan putaran yang berbahaya.
Melihat itu, sang kelinci pun berpikir dia harus bertindak, oleh karena itu dia mengambil gitar kecil yang tergantung di lehernya dan dia pukulkan gitar kecil tersebut ke kepala dari sang burung bangkai tersebut. Bam! Kepala sang burung bangkai terperangkap di dalam lubang gitar tersebut dan sang burung bangkai jadi tidak bisa melihat apa-apa.
Tio Conejo pun kemudian memegang erat kedua sayap dari Tio Zopilote dan mengarahkan sayapnya agar turun kembali ke Bumi, dan ketika sudah rendah dan menyentuh Bumi, sang kelinci pun lalu melompat turun ke tanah. Lalu sang kelinci pun meninggalkan sang burung bangkai.
“Haaii kelinci, tolong kau cabut dulu gitarmu dari kepalaku!”, ujar sang burung bangkai memohon.
“Kau minta tolong saja pada teman-temanmu yang di awan itu!”, sahut Tio Conejo sembari tertawa dan meninggalkan sang burung bangkai sendirian disitu. Sang kelinci pun lalu bergegas pulang kembali ke sarangnya. mudah berbahasa inggris
Tio Zopilote pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan gitar yang tersangkut di kepalanya. Ia berputar-putar, berguling-gulingan berusaha melepaskan gitar tersebut namun gitar tersebut tidak kunjung terlepas dari kepalanya. Lalu ia berusaha untuk berjalan sambil tersaruk-saruk pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumahnya, sang istri Tio Zopilote melihat dan malah ikut tertawa, namun tentu saja sang istri akhirnya membantu suaminya agar gitar kecil itu bisa lepas dari kepala suaminya. Namun saat sang istri Tio Zopilote berusaha melepas gitar kecil tersebut dari kepala suaminya, tercabut pulalah bulu-bulu di sekitar kepala burung bangkai itu, sehingga kepala burung buzzard itu pun menjadi botak.
Bulu-bulu itu tidak pernah tumbuh kembali, akibatnya anak-anak Tio Zopilote juga tidak memiliki bulu di leher dan kepala mereka. Dan sejak itulah burung buzzard mendapatkan penampilan anehnya.

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

 Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Marie Tussaud : Kisah Pengukir Lilin Yang Mengabadikan Tokoh Dunia

Mendengar nama Madame Tussaud's, kita langsung terbayang museum penuh patung lilin yang wajib dikunjungi. Meski sang pendirinya menyimpan sebuah kisah kelam, jaringan museumnya senantiasa menawarkan kegembiraan dan inspirasi.
Hidup Marie Tussaud berawal ketika ia lahir dengan nama Anna Maria Grosholtz pada 1 Desember 1761, di tengah keluarga miskin di Perancis. Lingkungannya begitu miskin hingga orang-orang disana biasa menjual gigi mereka agar bisa membeli makan. Ayah Marie adalah seorang tentara, namun ia harus tewas terbunuh di tengah medan perang dua bulan sebelum putri kecilnya lahir. Sang ibu yang menjanda kemudian pergi ke Swiss untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter bernama Phillipe Curtius. Dokter yang baik hati ini mengizinkan ibu Marie dan bayi perempuannya untuk tinggal di rumahnya. Sebagai seorang dokter, Curtius memiliki minat yang tidak biasa pada seni ukir lilin. Mulanya…

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…