Skip to main content

Agatha Christie : Prahara Hidup Sang Pengarang Misteri

Bulan ini, seandainya ia masih hidup, Agatha Christie berusia 122 tahun. Tak banyak yang tahu, sang pengarang punya kisah hidup yang tak kalah dramatis dari karya-karyanya. Devon, Inggris, tahun 1890. Seorang bayi perempuan, anak bungsu dari antara tiga bersaudara, dilahirkan di tengah keluarga konservatif. Ia diberi nama Agatha May Clarissa Miller.
Meski keluarganya berkecukupan secara materi, sang putri cilik tidak pernah disekolahkan. Hanya ada tutor yang secara teratur berkunjung untuk mengajarkan Agatha berbagai ilmu dasar. Tak heran, Agatha kecil yang pemalu dan sensitif kerap menemukan dirinya menganggur dan bosan setengah mati. Kadang, ia menciptakan permainan untuk dirinya sendiri.
Setiap akhir pekan, keluarganya beribadah bersama di gereja. Agatha sendiri tergolong "anak mami" - selain sebagai ibu, Mrs. Miller kerap bertindak sebagai tutor pribadi Agatha. Ia juga yang menjadi sosok pertama yang mendorong Agatha untuk sering menulis.
Kehidupan Agatha baru mulai berwarna ketika Perang Dunia I meletus. Tepat di awal perang, yaitu pada 1914, Agatha yang baru berusia 24 tahun menikahi pilot pesawat tempur bernama Archibald Christie alias Archie, dan mengubah namanya menjadi Agatha Christie.
Saat Archie bertempur, Agatha bertugas sebagai perawat di rumah sakit. Di sini, dorongan kreatif Agatha kerap muncul saat ia menghabiskan waktu merawat tentara yang terluka, apalagi saat ia "berkenalan" dengan berbagai bahan kimia yang bisa dipakai sebagai racun, seperti strychnine dan ricin. Gagasan untuk menulis kisa misteri muncul di benaknya. belajar bahasa inggris mudah

Terciptalah detektif Hercule Poirot, pensiunan polisi Belgia yang berpenampilan necis dan berkumis tebal, dalam naskah berjudul The Mysterious Affair at Styles. Naskah ini disimpan oleh Agatha hingga 5 tahun lamanya, sebelum akhirnya terbit dan direspons positif oleh publik.
Sejak itu, Agatha merasa ia telah menemukan panggilan hidupnya yang sesungguhnya, yakni menjadi pengarang. Ia terus produktif berkarya, dan novel-novelnya selalu disambut hangat oleh penggemar maupun kritikus.

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Vincent van Gogh : Pusaran Badai Hidup Sang Jenius Seni

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…