Skip to main content

Virus Berbahaya

Ririn membolak-balik badannya dengan gelisah. Dia mencoba memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Ririn menghela napas. Terbayang olehnya peristiwa sepanjang hari ini.
Tadi siang, Lilis datang ke rumah Ririn. “Coba tebak,” katanya dengan senyum yang dikulum.
“Tebak apa?” tanya Ririn bingung.
“Tebak, mengapa aku senyum-senyum seperti ini?” jawab Lilis.
“Kamu menang undian? Kamu dibelikan mobil? Kamu.. gila? Hehehe..”
“Hehe. Aku diterima kerja, Rin! Di sebuah perusahaan internasional. Gajinya sesuai dengan apa yang aku mau. Ada bonus, cuti, tunjangan kesehatan, plus jalan-jalan yang dibayarkan oleh perusahaan. Aduh.. aku senang sekali. Tuhan baik banget sama aku ya, Rin.”
Wajah Ririn berubah jadi pucat. “Oh.. selamat ya.”
Lilis mengamati wajah Ririn. “Kok kamu kelihatan sedih? Kamu tidak senang aku dapat pekerjaan, Rin?”
“Ah… tentu saja aku senang. Masa aku sedih? Aku cuma kaget saja. Beritanya kan mendadak.“ Ririn tersenyum manis.

“Iya, memang mendadak. Mengagetkan, ya? Kamu tenang saja, nanti setelah dapat gaji pertama, aku traktir!”
“Janji ya..!”
Lilis masih terus bercerita mengenai perusahaan tempat dia nanti akan bekerja. Ririn mendengarkan sahabatnya bercerita sambil sesekali tersenyum dan mengangguk. Tapi bila ditanya, dia tidak ingat lagi apa yang ia dengar. Hatinya kacau.
Tak lama setelah Lilis pulang, handphone Ririn berbunyi.
“Hai Yen. Apa kabar? Tumben nih, telepon siang-siang.”
“Hai, Rin. Kabarku luar biasa baik. Coba tebak, apa yang terjadi?”
Ririn menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tadi Lilis menyuruh dia menebak, sekarang ada Yenny yang meminta dia menebak juga. Apa sih yang terjadi hari ini? Hari kuis?
“Hei, Rin. Kok diam saja? Aku saja deh yang cerita. Aku sudah ngga sabar.”
“Oh iya, Yen. Kamu saja yang cerita. Kedengarannya kamu gembira sekali.”
“Luar biasa gembira, Rin. Sekarang aku sudah punya pacar! Hihihi… aneh, deh, nyebut kata pacar, belum biasa sih. Aku sudah ngga jomblo lagi, Rin. Status facebook-ku sekarang sudah ‘In a Relationship’. Bukan ‘Single’ lagi! Yeah!”
“Oh… selamat, ya Yen….”
“Thanks, Rin. Kamu orang pertama yang aku kasih tahu, lho. Cerita detailnya nanti aku ceritain waktu kita ketemu. Oh, sudah dulu ya, Rin. Cowokku telepon nih. Bye.”
“Bye….”
Ririn membolak-balik badannya lagi. “Huh…. Hari ini hari apa sih? Mengapa semua orang dapat berita gembira? Lilis dapat pekerjaan yang oke, Yenny dapat pacar. Aku dapat apa? Ngga ada satu pun. Tuhan sepertinya pilih kasih. Aku sudah melamar kerja kemana-mana, tak satu pun yang memanggil. Aku sudah coba berteman dengan siapa saja, tidak ada yang suka sama aku. Mengapa Tuhan tidak memberikan satu pun yang aku inginkan?”
“Perlahan, setitik air mata mengalir di pipinya. Akhirnya, Ririn tertidur.
“Indahnya…. Matahari terbit memang indah.”
Ririn menarik napas dalam-dalam. Badannya sudah lebih enak sekarang. Tadi pagi saat bangun, kepalanya terasa pusing. Dia sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya gelisah. Ia pun memutuskan pergi ke pantai ini.
Ririn menggeser posisi duduknya sehingga lebih nyaman. Angin bertiup sepoi-sepoi. Suasana pantai terasa tenang. Ririn memejamkan matanya.

Puk. Ririn menoleh.
“Hei, Rin. Tumben kamu ada di sini.”
Seraut wajah manis tersenyum padanya, lalu dia mengambil posisi duduk di samping Ririn.
“Nana… benar kamu Nana? Kok kamu bisa ada di sini?”
“Seharusnya aku yang tanya ke kamu, Rin. Setiap hari aku ke sini, tapi baru kali ini aku melihat kamu ada di sini.”
“Oh….iya. Kadang-kadang aku ke sini tapi biasanya sore hari. Hari ini saja aku datang pagi. Kamu gimana kabarnya?”
“Kabarku baik, seperti yang kamu lihat. Masih bernapas, kan?”
“Ah, kamu memang bisa saja. Kamu sudah bekerja sekarang?”
“Aku sudah tidak kerja, Rin. Kamu kan tahu apa yang terjadi. Sulit bagiku mencari pekerjaan, Rin.”
“Maaf ya Na. Aku tidak bermaksud untuk…”
“Ngga apa, Rin. Aku baik-baik saja, kok. Aku bahagia dengan keadaanku yang sekarang.”
“Kok bisa? Maksudku, kamu memang terlihat bahagia, padahal kamu…. Kamu…”
“Sekarat.”
“Maaf, Na. Aku tidak bermaksud…”
“Ah, ngga papa. Jangan meminta maaf. Dari tadi kamu minta maaf terus sih. Jadi ngga enak, kan?”
“Iya, Na.. Maaf…yah, maaf lag, nih.”
“Hahaha. Iya, sudahlah.”
“Tapi benar. Kamu terlihat bahagia. Padahal kamu lagi sakit. Apa rahasianya?”
“Rahasia? Hm, apa yah? Sepertinya ngga ada. Apa benar aku terlihat bahagia, Rin?”
Ririn mengangguk, “Iya”.
“Thanks, Rin. Hm, aku cuma belajar bersyukur aja. Iya, sepertinya begitu saja.”
“Bersyukur?? Kok bisa? Atas apa? Atas rasa sakit ini? Atas keluarga kamu yang…yang..”
Nana mengangguk, “Iya, Rin. Atas semuanya. Karena penyakit ini, aku menjalani hidup dengan lebih bijaksana, karena aku tidak tahu kapan akan mati. Aku ingin melayani Tuhan dan sesama sebanyak yang aku bisa. Iya, bersyukur atas keluargaku juga. Memang, kadang rasanya sangat menyedihkan, tapi paling tidak aku masih punya keluarga. Banyak orang tidak punya keluarga, kan? Jadi beginilah…jalani saja hari demi hari. Ah, mengapa jadi serius begini, ya?”
“Kamu hebat, Na. Benar-benar hebat. Apa kamu tidak pernah merasa iri hati? Apa kamu tidak marah kepada Tuhan? Kamu tidak bisa menjalani hidup dengan normal.”
“Aku tidak sehebat itu, Rin. Aku pernah iri, Rin. Aku juga pernah marah kepada Tuhan. Aku ingin bekerja seperti kamu, juga ingin pacaran.”
“Tapi kamu bisa mengatasinya, kan?”
“Iri hati itu seperti virus, Rin. Virus berbahaya yang mudah sekali menyebar. Kalau tidak diusir, lama-lama membuat hati kamu penuh dengan dosa. Kamu marah kepada Tuhan, keluarga, teman-teman. Kamu malas melakukan apa pun. Kamu menyerah. Bahkan kamu juga bisa sakit parah, lho.”
Ririn mengangguk. les bahasa inggris dewasa
“Hitung berkat satu per satu, jangan ada yang dilupakan…” Nana bersenandung gembir.
“Kamu bisa saja, Na.”
“Itu lagu yang sering aku nyanyikan kalau ‘virus’ tadi datang, Rin. Oke, Rin, aku harus pulang sekarang. Bye. Rin.”
“Bye, Na.”
Ririn melambaikan tangan pada Nana. “Thanks Na. Aku tidak akan membiarkan virus itu menyebar lebih jauh.”
Kring. Kring.
“Halo, Lis. Iya, nanti pasti aku temani kamu ke mall beli baju kerja. Oke, bye…”

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Vincent van Gogh : Pusaran Badai Hidup Sang Jenius Seni

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…