Skip to main content

Aisha Uddin : Demi Islam, Kuhadapi Segala Tantangan


“Keluargaku tak senang. Mereka terus memprotes identitas Muslmiku, terus menginterogasi jika aku mengenakan jilbab,” keluh Aisha Uddin. Laura, demikian nama lamanya sebelum menjadi Muslimah. Namun, demi meleburkan hatinya pada jalan Islam yang lurus, ia kini enggan menggunakan nama itu. Ketulusan dan keikhlasannya menjadi Muslimah rupanya tak berbanding lurus dengan respons orang tua dan keluarganya. Mereka menolak keras keislamannya.
Namun, wanita Inggris ini tetap setegar karang.
Usia Aisha baru menginjak 20 tahun saat memutuskan untuk memeluk Islam. Namun sejatinya, jauh sebelum itu ia telah merasa penasaran dengan Islam. Saaat remaja, ia sering diam-diam ke masjid dekat rumahnya. Ia menyelinap dan bertanya tentang Islam kepada siapa saja yang ada disana. Namun, belum lengkap pengetahuan Aisha tentang Islam, ia dan keluarganya pindah ke kota lain, Birmingham.
Kepindahan keluarganya justru membawa hal positif bagi Aisha. Di Birmingham, Aisha mengenal beragam agam. Ia pun lebih banyak bertemu Muslimin di kota tersebut. “Islam telah menarik minat saya. Islam telah tertangkap mata saya dan saya ingin melihatnya lebih jauh ke dalam. Saya ingin melihat orang-orangnya, budayanya, dan sebagainya. Saya pun terus belajar dan belajar. Bahkan, setelah sekolah dan tinggal di Birmingham, saya benar-benar dikelilingi agama, “ ujar Aisha dengan mata berbinar, seperti dikutip Islam Today.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Aisha untuk mempelajari agam Islam. Hingga memasuki usia 20 tahun, Aisha kian mantap dengan agama ini. Ia pun bersyahadat dan berkomitmen untuk terus memegang teguh keimanan Islam walau apa pun yang terjadi. Dari awal, Aisha telah memiliki firasat bahwa keputusannya ini akan ditentang banyak pihak, terutama keluarga. Meski demikian, hal itu sama sekali tak mengurangi tekadnya untuk berislam, termasuk mengubah penampilannya menjadi Muslimah berjilbab.

“Saya sangat senang akan perubahan itu. Sebelum menjadi Muslim, saya selalu menggunakan celana jeans, hoodies, dan make up yang menor,” kata Aisha malu-malu. Mata birunya bersinar bahagia. Parasnya cantik berbalut jilbab hitam meski tanpa make up.
Kebahagiaan itu sempat meredup tatkala Aisha menemui kenyataan bahwa keluarganya menolak keras keputusannya berislam. Bayangkan, tiba-tiba ia dimusuhi keluarganya. Orang tuanya menuding Aisha sebagai anak yang durhaka dan tidak berbakti. “Keislaman saya dianggap sebagai penolakan, tak balas budi, tak menghormati orang tua yang telah membesarkan saya,” ungkap Aisha sedih.
Meski sedih, Aisha tak mau melepaskan hidayah yang telah ia raih. Ia terus bertahan meski rumahnya seakan penjara baginya. Ia tak diizinkan pergi ke luar rumah untuk mempelajari Islam. Pada saat yang sama, orang tuanya terus berusaha membujuk Aisha agar kembali pada agama sebelumnya.
Ketegangan kian memuncak saat Aisha mengenakan jilbab. Menurut Aisha, ia akan diteror dan diamuk keluarganya jika ketahuan mengenakan jilbab. Namun, Aisha telah bertekad untuk terus berjilbab. Meski keluarga terus meneror, Aisha diam-diam telah mengenakan busana yang menutup aurat tersebut.
Akhirnya, hal yang ditakutkan Aisha pun terjadi. Ia diusir dari keluarga. Ia tak diizinkan lagi menggunakan nama keluarga. Aisha, yang dulu bernama Laura, memilih menggunakan nama Islam selamanya.
Penolakan keras dari keluarga tentu membuat Aisha sedih. Namun, ia tak marah. Buktinya, ia terus berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarga dan memberi pengertian kepada mereka meski tak pernah membuahkan hasil.
Dalam wawancara dengan BBC, Aisha mengaku sedang giat mempelajari Al Qur’an. Ia belajar membaca dan menulis huruf Arab. Meski masih terbata-bata, kini Aisha telah mampu membaca Kitabullah.
Saat ini, Aisha berusia 22 tahun. Artinya, sudah dua tahun ia bertahan di atas tantangan-tantangan yang menguji keimanannya. Terbukti, ia mampu bertahan. Ia masih berislam hingga kini. Ia pun telah menemukan seorang pria Muslim yang kini menjadi suaminya. Ia memang telah kehilangan keluarganya. Namun kini, ia memiliki keluarga baru yang senantiasa mendukung keislamannya.

Bangga Menjadi Muslimah


Islam menjadikan Aisha sebagai pribadi yang lebih baik. Ia merasa kehidupannya berubah sangat drastis. Namun, hal ini bukan karena tantangan yang melandanya, melainkan karena rasa bahagianya hidup sebagai Muslimah.
“Saya sebelumnya seorang pemberontak. Saya selalu mendapatkan masalah di rumah, pergi keluar dan tinggal di luar. Saya juga malas belajar di sekolah,” kata Aisha.
Setelah memeluk agama Islam, Aisha menjadi lebih kalem, merasa sangat tenang dan damai. Tak pernah ia merasa bahagia seperti setelah berislam. Aisha pun lebih senang membaca buku dan mempelajari Al Qur’an. Ia tak lagi liar seperti dulu. Sikapnya pun lebih lembut dan tak suka berbicara keras, apalagi memberontak. belajar bahasa inggris awal
Meski banyak tantangan yang dihadapi dan keluarga terus menentangnya, Aisha tak pernah menyesal memeluk Islam. Sebaliknya, ia merasa amat bersyukur merasakan manisnya hidayah. Ia pun amat bangga memiliki identitas sebagai seorang Muslimah. “Saya bangga dengan diri saya sekarang.”

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Vincent van Gogh : Pusaran Badai Hidup Sang Jenius Seni

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…