Saturday, February 23, 2013

Gieztia Mardini, Semakin Mantap Dengan Hijab



Nama                    :   Gieztia Mardini
Lahir                     :   Tanjung Karang, 3 Mei 1987
Suami                    :   Agus Idwar
Anak                     :   Sultan Abyasha Idwar (1,4 tahun)
Pendidikan            :   Jurusan Internasional FISIP Unpad
Profesi                  :   Penanggung jawab majalah fashion Muslimah Moschaict Hijabstar
Prestasi                 :   - Mojang Priangan Kota Bandung 2005
                                  - Duta Wisata Indonesia Provinsi Jawa Barat (2007)
          - Juara Pertama Putri Pantene Trans TV 2008
          - Finalis Miss Indonesia 2009
Hidup itu adalah pilihan. Di tiap opsinya ada konsekuensi. Yakin dengan satu pilihan maka percayalah Allah SWT akan selalu memberi pertolongan dan hidayah. Begitulah Gieztia Mardini meyakini jalan hidup dan keputusannya untuk mengenakan hijab sejak 2009. Ia berkisah tentang bagaimana memilih sebuah keputusan. Sebagai manusia biasa, tentu terbersit dunia.
Dua pekan sebelumnya pilihannya untuk berhijab, ia mendapatkan tawaran untuk menjadi model iklan produk sampo ternama. Bisa dibayangkan jika tawaran itu ia terima. Selain namanya kian melambung di jagad hiburan, materi rupiah dengan  mudahnya akan ia raup. Pundi pun kian tebal. Konsekuensinya, jilbab itu harus ia tanggalkan. Bergemingkah?
Justru, Giez, begitu dia akrab disapa, lebih memutuskan tetap menutup auratnya. Ia pun berjilbab. “Tawaran ini benar-benar menjadi ujian bagi diri saya,” ungkap Giez. Apalagi, keluarga inti menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada anak sulung dari empat bersaudara ini. Silakan saja mau menerima atau mau menolak tawaran tersebut. Giez pun sempat dilema, namun setelah itu ia mantap menolak tawaran sebagai bintang iklan.
Akhirnya, kekuatan itu datang, setelah menengok ke belakang betapa panjang proses pembelajarannya untuk berjilbab. “Latihan” ini sudah dilakukan Giez sejak duduk di bangku SMA. Namun, masih sebatas coba-coba, belum mantabz 100 persen. Ia yakin, ini adalah pilihan terbaik. Soal rezeki Allah pasti mempunyai rencana lain. Memberi rezeki dengan jalan dan cara yang berbeda. “Saya sudah mantap dan tidak tergoda lagi,” tutur Giez yakin.

Pilihan mengenakan kerudung mengundang keheranan rekan-rekan Giez. Karena, selama ini dia meraih prestasi di berbagai kontes kecantikan dan keputrian, baik di tingkat daerah maupun nasional. Ibaratnya, Giez sudah mengkoleksi banyak selempang dari berbagai perhelatan itu. Kesempatan emas mengikuti ajang bergengsi lainnya pun masih sangat terbuka.
Namun, alumnus Hubungan Internasional Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, ini meninggalkan semua itu. Menurutnya, setelah berjilbab  ada perubahan pada dirinya, merasa lebih tenang dan nyaman. Makanya, tidak perlu berpikir dua kali untuk menolak setiap tawaran yang datang selama tawaran itu menuntut penanggalan jilbab.
Giez tak berhenti bersyukur. Jilbab mendatangkan segudang hikmah. Ia dipertemukan dengan suaminya, Agus Idwar, mantan vokalis grup nasyid SNADA. Pertemuan yang tidak disangka. Saat itu, ia mengantar ibunya menghadiri halal bihalal di sebuah hotel di Bandung. Ketika itu, calon suaminya bertindak sebagai MC dan bintang tamunya Ustadz Jeffry Al Bukhori. “Mamah sempat tanya ke saya, itu MC-nya siapa ya? Saya jawab, tidak tahu karena saya tidak kenal,” kenang Giez.
Seusai acara, Agus meminta pin BB dan telepon. Sejak itu, ia intens melakukan silaturahim. Ketika Agus meminta serius, perempuan yang hobi melukis ini memohon petunjuk kepada Allah melalui shalat Istikharah. “Saya bermimpi, dalam mimpinya shalat diimami oleh Kang Agus, lalu ada yang memberi surat bertuliskan witri,” tambah tim mahasiswa Indonesia yang pertama kali berkunjung ke NATO (The North Atlantic Treaty) itu.
Bangun tidur, Giez penasaran dengan kata witri. Setelah googling, ternyata artinya witir alias yang terakhir. “Kekuatan Allah yang mempertemukan kami. Akhirnya, saya mantap menikah dengan Kang Agus, walaupun perbedaan usianya sangat jauh,” ujar Giez yang menikah Januari 2011.
Peraih gelar Mojang Priangan 2005 ini tengah menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu dari Sultan Abyasha Idwar (1,4 tahun). Kegiatan lainnya, penanggung jawab di majalah fashion Muslimah Mochaict Hijabstar yang terbit dwi mingguan. “Sejak berkerudung, saya lebih tertarik menekuni dunia hijab, fashion Muslimah, “ katanya yang semangat terjun ke majalah fashion setelah mendapat izin suaminya tersebut. les bahasa inggris cepat
Dunia majalah diakui Giez jauh lebih berbeda dengan latar belakang pendidikannya di Hubungan Internasional (HI). Jurusan HI seharusnya menjadi diplomat, tapi ini malah nyasar ke majalah. “Dulu masuk HI juga karena kecebur,” akunya sambil tertawa. Dunia diplomat sejak awal bukanlah opsi utamanya. Sedangkan, menulis sejak kecil sudah menjadi hobi. Giez mengakui, saat mendapatkan kesempatan menulis, ia optimalkan untuk mengapresiasikan diri. Ia pun cukup nyaman dengan aktivitasnya saat ini. “Apalagi, jam kerjanya fleksibel, tidak harus setiap hari ke kantor. Waktunya bisa dimanfaatkan untuk mengurus anak,” tutur Giez yang suka mengajak anaknya liputan ke lapangan.
Kegiatan lainnya, Giez sempat diajak berkolaborasi sebagai MC bersama suami saat tampil satu panggung. Bukannya tampil kompak, malah konsentrasi perempuan cantik ini langsung buyar. Alasannya, jam terbang yang berbeda serta malu-malu kucing jika ada suami.

Dr. Mu’inudinillah Basri, MA



Ustadz Mu’in, demikian ia kerap disapa. Sosok yang memiliki nama lengkap Mu’inudinillah Basri ini adalah salah satu tokoh penggerak dakwah di Surakarta dan sekitarnya. Ia lahir di Sukoharjo pada 15 Juni 1966. Sejak kecil ia telah memiliki semangat belajar agama yang tinggi. Kondisi kekurangan yang menimpa keluarganya tidak menjadikan dirinya patah arang dalam menggapai keberhasilan. Ayahnya, Mohammad Basri, meninggal dunia ketika ia masih di bangku kelas satu Tsanawiyah. Kehidupan keluarganya yang pas-pasan justru melecut Mu’in kecil untuk bergiat meraup ilmu.
Tapi, Mu’in juga beruntung. Adanya sejumlah ulama dengan keislaman kuat dalam jalur silsilahnya turut membentuk motivasinya untuk mendalami Islam. Ia adalah keturunan KH. Imam Rozi, pendiri pesantren Singo Manjat, Tempursari, Klaten. Kiai Imam Rozi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Ageng Kenongo. Saat mencapai usia 24 tahun, Imam Rozi bergabung dengan Pangeran Diponegoro menentang  penjajah Belanda, bersama Kiai Mojo dan para pejuang lainnya. Bahkan, dia akhirnya menikah dengan RA Sumirah, saudara sepersusuan Pangeran Diponegoro. Ia diangkat sebagai manggala yudha atau panglima perang dan sebagai penghubung antara Pangeran Diponegoro dan Paku Buwono VI Surakarta. Kyai Rozi memiliki 4 orang istri. Dari jalur ulama inilah silsilah Ustadz Mu’in terhubung sebagai salah satu keturunannya.
Pendidikan yang ditempuh Ustadz Mu’in turut membentuk kecintaan dan pemahamannya terhadap agama. Pendidikan setingkat sekolah dasarnya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Pucangan, Kartasura, lulus tahun 1977. Lulus SLTP, ia melanjutkan SLTA-nya di Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah di Surakarta.
Di jalur non formal, Mu’in bersemangat untuk mencari ilmu di luar bangku sekolah. Mulazamah adalah salah satu kegiatan favoritnya sejak kecil. Salah satu gurunya tempat “ngaji kitab” adalah Kiai Abdul Hamid, seorang lulusan Mambaul Ulum, Surakarta. Dari sang guru, Mu’in muda menyelesaikan “ngaji sorongan” kitab tafsir Al Munir al-Bantani dan Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq.

Lulus pendidikan guru agama, Mu’in berkeinginan kuat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, ia terbentur biaya. Jalan mulai terbuka saat ia diterima kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Di tempat inilah, Mu’in membuktikan keseriusan belajarnya. Sejak semester pertama hingga akhir, ia selalu mendapat ‘ranking’ pertama. “Di LIPIA, saya berkesempatan melakukan telaah dan diskusi keilmuan yang serius,” ujarnya.
Dunia pergerakan juga digelutinya. Beberapa buku karya Said Hawwa tercatat menjadi salah satu bacaan yang dikajinya. Beliau juga dekat dengan sejumlah pengajar, antara lain Ustadz Abdullah al-‘Aidan, Syaikh Yasin al Khatib dari Baghdad, dan Syaikh Muhammad Manna’ Al Qarniy.
Lulus LIPIA tahun 1990, ia sempat mengajar di Ma’had Al Hikmah, Jakarta. Saat itulah, peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi terbuka lebar. Lulusan LIPIA yang mendapatkan peringkat pertama hingga kelima diberi kesempatan studi dengan beasiswa ke Arab Saudi.

Studi magister dan doktornya diselesaikan di Jamiah Al Imam, Islamic University Riyadh.
Selama menempuh pendidikan di Arab Saudi, Ustadz Mu’in memiliki banyak pengalaman menarik. Ia terlibat dalam pengembangan dakwah terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Timur Tengah. Sebuah Ma’had didirikan untuk menjembatani kepentingan ini. Mu’in mengaku memanfaatkan kesempatannya dengan aktivitas dakwah. Berbagai kesempatan mengisi kajian dimanfaatkannya. Aktivitas penerjemahan buku dan pengajaran tahfidz Al-Qur’an juga pernah dilakoninya.
Di Arab Saudi, Ustadz Mu’in berjumpa dengan kawan-kawan yang terdiri dari para mahasiswa dari berbagai negara. Tukar pengalaman di antara mereka turut memperkaya khazanah pemahaman akan situasi dan kondisi dakwah dari berbagai negara. Ia juga bertemu dengan sejumlah aktivis harakah Islam dari Mesir, Bosnia Herzegovina, dan lain-lainnya. Pertemuan dengan kawan-kawan dari sejumlah harakah dari berbagai negara ini merupakan salah satu pengalaman dalam membangun persaudaraan yang cukup mengesankan.
Tentu saja, pengalaman berharga lainnya adalah belajar agama secara langsung pada sejumlah masyayikh. Ia pernah belajar ilmu melalui mulazamah bersama Syaikh Utsaimin dan Syakih Bin Baz. Pengalaman-pengalaman inilah yang kemudian menjadi cukup berbekas dan sebagian diupayakan untuk diterapkan saat kembali ke Tanah Air. Kini, hari-hari sang Ustadz diisi dengan seabrek aktivitas dakwah dan pendidikan. Selain menjadi direktur Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Ibnu Abbas, di Klaten, Jawa Tengah, ia diamanahi memimpin Program Studi Magiste Pemikiran Islam (MPI) dan Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sejumlah artikel maupun buku telah dihasilkannya.

Beberapa contoh bukunya : Dzikir dan Do’a, Indahnya Tawakkal, dan Indahnya Kematian. belajar cepat bahasa inggris
Tentang kondisi pemikiran kini, Ustadz Mu’in mengajak umat Islam untuk tidak mudah silau dengan pemikiran keliru, yang sebenarnya “paham lama”, tapi diberi kemasan baru. “Seseorang bisa terjerembab dalam pemahaman menyimpang karena dua sebab,. Pertama karena tidak memiliki pemikiran genuine yang berlandaskan pada pemahaman agam yang baik. Kedua, tidak memiliki pemahaman menyeluruh tentang kebatilan dan kejahiliyahan,” ujarnya.  

Monday, February 18, 2013

Legenda Kepala Gundul Burung Buzzard



Pada jaman dahulu kala di negara bagian Amerika Selatan hiduplah seekor kelinci yang bernama Tio Conejo. Sang kelinci ini sangat dikenal senang menjahili teman-temannya. Karena teman-temannya sudah hafal dengan perilaku sang kelinci ini, teman-temannya lebih memilih untuk tidak membalas dendam ketika dijahili oleh sang kelinci.
Suatu ketika di sebuah musim dingin, Tio Conejo ini kelaparan, dan kemudian dia keluar dari sarangnya untuk mencari makanan. Ia melompat dan berusaha untuk mencari buah berry. Biasanya di musim dingin buah berry sangat sulit dicari ketimbang musim-musim yang lainnya.
Ketika Tio Conejo lewat makhluk-makhluk yang lainnya pun bergegas menyingkir karena sudah tahu dengan watak asli sang kelinci yang senang menjahili. Mereka tidak tahu bahwa sang kelinci sebenarnya lagi sangat kelaparan sehingga tidak memperdulikan hal lain selain mencari makan untuk menghilangkan rasa laparnya.
Sejurus kemudian saat Tio Conejo mencari-cari buah berry untuk dimakan, ia menemukan belukar yang masih hijau. Kemudian disibaknyalah belukar tersebut dan ternyata memang dia menemukan buah berry dibalik belukar tersebut.
“Wah ketemu juga yang aku cari-cari!” ujar sang kelinci menggumam di dalam hatinya. Lalu ia pun duduk di dekat belukar tersebut dan mulai memetik buah berry yang ada dan langsung memakannya dengan lahapnya tanpa memperdulikan sekitarnya.
Pada saat Tio Conejo sedang memakan buah berry dengan lahapnya datanglah Tio Zopilote, seekor burung bangkai. Ia saat itu tengah terbang di atas, dan ketika ia melihat ke bawah ada Tio Conejo, sang burung bangkai ini pun langsung terbang rendah dan turun ke bawah ke dekat Tio Conejo.
“Senang melihatmu Tio Conejo!” ujar sang burung bangkai tersebut. Padahal sebenarnya ia tidak begitu suka dengan kehadiran Tio Conejo, karena sang burung bangkai tersebut pernah menjadi korban dari kejahilan dari Tio Conejo. Dan ia sangat menunggu-nunggu saat yang tepat dimana ia bisa membalas kejahilan dari Tio Conejo.
“Hai Tio Zopilote” balas Tio Conejo, aku saat ini lagi sangat kelaparan dan untung aku menemukan buah berry ini disini. Saat itu Tio Zopilote melihat kesempatan emas dia bisa membalas kejahilan dari Tio Conejo, lalu ia berkata, “Wah kau sedang kelaparan ya? Aku tahu tempat dimana kau bisa menemukan lebih banyak lagi makanan yang bisa kau makan disaat musim dingin seperti ini” ujar Tio Zopilote menimpali ucapan dari Tio Conejo.
Mendengar hal itu dari sang burung bangkai, maka Tio Conejo pun melompat kegirangan dan langsung berkata, “Dimana tempatnya Tio Zopilote?? Beritahu aku segera dimana tempatnya!!” ujar Tio Conejo dengan semangat.
Sang burung bangkai pun tersenyum sendiri, sambil berkata, “Tempatnya ada di atas awan itu Tio Conejo! Disanalah terdapat jamuan makan terlezat yang pernah ada. Kami para burung sering pergi dan makan disana. Makanan yang terdapat disana sungguh lezat!”.
Mendengar cerita dari sang burung bangkai Tio Conejo pun jadi lesu dan berkata, “Mana mungkin aku bisa pergi ke atas awan itu Tio Zopilote, aku kan tidak mempunyai sayap! Jadi aku tidak akan pernah bisa juga memakan hidangan lezat yang tersedia di atas awan itu”, sahut Tio Conejo dengan lemah.
Lalu sang burung bangkai pun menjawab, “Ah itu soal gampang! Aku bisa mengantarmu kesana. Nanti kita berdua makan-makan lezat di atas sana. Kau tinggal naik saja ke atas punggungku ini, lalu kita berdua terbang kesana. Gimana?”.

Mendengar sang burung bangkai berkata seperti itu, Tio Conejo pun langsung kembali bersemangat. “Waaahh, terima kasih! Ayo kita berangkat kalau begitu!” ujar sang kelinci.
Tio Zopilote pun menjawab, “Ayo kau juga segera bawa gitarmu, teman-teman yang lain pastinya akan senang juga kalau kau membawa gitar lalu kau menyanyikan beberapa lagu buat kami untuk menghibur saat kita makan-makan di atas sana. Mereka pasti sangat senang mendengar kau bernyanyi, lekaslah kau ambil gitarmu dan kita segera terbang ke atas awan itu.”
Lalu sang kelinci pun menjawab dengan semangatnya, “Tunggulah sebentar! Aku mengambil gitarku dulu yaaa..”. Lalu sang kelinci pun melompat menuju ke sarangnya dan mengambil gitar kecilnya dan kemudian dia bergegas kembali ke tempat dimana sang burung bangkai tersebut berada.
Kemudian Tio Zopilote berkata setelah melihat kedatangan sang kelinci dengan gitar kecilnya, “Sekarang kau naiklah ke atas punggungku, kita segera naik ke atas awan.”
Maka sang kelinci pun mengikat gitar kecilnya di lehernya lalu dia naik ke atas punggung Tio Zopilote sambil tangannya mencengkeram dengan erat leher dari sang burung bangkai. “Oke aku sudah siap!” ujar sang kelinci.
Lalu Tio Zopilote pun segera melesat ke angkasa. Ia terus naik dan naik hingga tinggi sekali, seraya dia berpikir keras gimana cara menjahili sang kelinci tersebut. Sang burung bangkai pun naik begitu tingginya hingga tanah tempat tadi mereka berada dibawah terlihat sangat jauh dan binatang yang berada dibawah terlihat sangat kecil.
“Sekaranglah saatnya aku balas dendam!” ujar sang burung bangkai di dalam hati. Kemudian ia pun berseru kepada sang kelinci, “Hai, maukah kau memainkan sebuah lagu untukku dengan gitarmu? Pastinya aku jadi lebih bersemangat dan perjalanan ini bisa menjadi lebih cepat lagi.”
Sang kelinci pun menjawab,” Ja-jangan sekarang deh! Aku tidak bisa memainkan gitarku saat ini.”, ujar sang kelinci terbata-bata karena ketakutan akan ketinggian yang sekarang mereka berada. Ia melihat ke bawah dimana binatang di bawah tampak terlihat sangat kecil sekali.
Sang burung bangkai pun menjawab, “Kalau begitu aku akan terbang dengan sangat hati-hati agar kau bisa memainkan gitarmu dengan mudah”, sambil ia pun mulai terbang dengan lebih santai. Dan Tio Conejo pun mulai mengambil gitar yang dia ikatkan di lehernya, sembari mencari posisi yang enak agar dia bisa bermain gitar. Lalu sang kelinci pun mulai memainkan gitarnya.
Menyadari bahwa sang kelinci sudah tidak berpegangan ke lehernya lagi, maka sang burung bangkai pun mulai melakukan manuver dengan tiba-tiba, ia mulai terbang berputar-putar, awalnya membentuk lingkaran kecil, lalu zig zag, intinya sang burung bangkai itu sangat ingin menjatuhkan sang kelinci dari atas punggungnya.
“Stop! Stop! Tolong hentikan cara terbangmu yang seperti ini!! Aku bisa jatuh kalau kau terbang seperti ini!”, ujar sang kelinci seraya melepas gitarnya, dan kembali berpegangan ke leher dari sang burung bangkai.
“Ah aku terbang biasa saja kok. Memang aku harus terbang seperti ini karena perbedaan angin, karena angin di bawah dan angin di atas berbeda”, sahut Tio Zopilote.
“Oh, tolong perutku mual! Hentikan Tio Zopilote!”, ujar sang kelinci memohon kepada sang burung bangkai untuk tidak terbang seperti itu lagi, namun sang burung bangkai malah menambah cepat terbangnya dan malah melakukan manuver-manuver yang lebih berbahaya lagi, sambil berkata kepada sang kelinci, “Ini kita sudah dekat kok!”.
“Tolong! Ayo kembali ke Bumi aku mohon Tio Zopilote!”, ujar sang kelinci ketakutan. Namun Tio Zopilote tidak memperdulikan kata-kata dari sang kelinci dan justru melakukan putaran yang berbahaya.
Melihat itu, sang kelinci pun berpikir dia harus bertindak, oleh karena itu dia mengambil gitar kecil yang tergantung di lehernya dan dia pukulkan gitar kecil tersebut ke kepala dari sang burung bangkai tersebut. Bam! Kepala sang burung bangkai terperangkap di dalam lubang gitar tersebut dan sang burung bangkai jadi tidak bisa melihat apa-apa.
Tio Conejo pun kemudian memegang erat kedua sayap dari Tio Zopilote dan mengarahkan sayapnya agar turun kembali ke Bumi, dan ketika sudah rendah dan menyentuh Bumi, sang kelinci pun lalu melompat turun ke tanah. Lalu sang kelinci pun meninggalkan sang burung bangkai.
“Haaii kelinci, tolong kau cabut dulu gitarmu dari kepalaku!”, ujar sang burung bangkai memohon.
“Kau minta tolong saja pada teman-temanmu yang di awan itu!”, sahut Tio Conejo sembari tertawa dan meninggalkan sang burung bangkai sendirian disitu. Sang kelinci pun lalu bergegas pulang kembali ke sarangnya. mudah berbahasa inggris
Tio Zopilote pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan gitar yang tersangkut di kepalanya. Ia berputar-putar, berguling-gulingan berusaha melepaskan gitar tersebut namun gitar tersebut tidak kunjung terlepas dari kepalanya. Lalu ia berusaha untuk berjalan sambil tersaruk-saruk pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumahnya, sang istri Tio Zopilote melihat dan malah ikut tertawa, namun tentu saja sang istri akhirnya membantu suaminya agar gitar kecil itu bisa lepas dari kepala suaminya. Namun saat sang istri Tio Zopilote berusaha melepas gitar kecil tersebut dari kepala suaminya, tercabut pulalah bulu-bulu di sekitar kepala burung bangkai itu, sehingga kepala burung buzzard itu pun menjadi botak.
Bulu-bulu itu tidak pernah tumbuh kembali, akibatnya anak-anak Tio Zopilote juga tidak memiliki bulu di leher dan kepala mereka. Dan sejak itulah burung buzzard mendapatkan penampilan anehnya.

Kisah Louise Braille


Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi nama Louis Braille. Louis ini semenjak dari kecilnya sudah menunjukkan bakat-bakat menonjol, seperti cerdik, banyak akal dan mempunyai rasa penasaran akan sesuatu yang terus menerus dan seakan tidak ada habisnya.

Saat dirinya masih balita, Louis kecil sering sekali diajak ke bengkel kerja ayahnya, dimana disana ia bermain dengan berbagai peralatan yang ada dan memperhatikan proses pembuatan pelana yang ayahnya kerjakan.

Tak disangka suatu hari keisengan Louis kecil dengan berbagai peralatan yang ada di bengkel ayahnya menimbulkan bencana untuk dirinya. Saat ia sedang bermain dengan benda tajam yang biasanya digunakan ayahnya untuk melubangi bahan dari kulit, benda yang tajam itu tidak sengaja mengenai salah satu matanya. Luka tersebut kemudian menjadi infeksi dan menyebar ke mata yang lain, sehingga dalam waktu satu tahun Louis pun menjadi seorang tuna netra.

Karena saat itu Louis masih begitu kecil, keluarganya bahkan juga ayah dan ibunya menjadi kuatir dengan masa depannya Louis karena kebutaannya itu. Namun pendeta dan guru sekolah tetap mendorong agar Louis tetap diikutkan ke sekolah seperti halnya murid-murid normal yang lainnya. Walaupun saat belajar Louis hanya bisa menangkap pelajaran hanya melalui pendengarannya.

Louis Braille berhasil menjadi juara kelas dan mematahkan anggapan bahwa anak difabel tidak bisa berprestasi. Dengan kemampuannya yaitu daya tangkap Louis yang luar biasa dan juga daya ingatnya yang luar biasa, terutama di bidang sains Louis berhasil menjadi juara kelas.

 

Prestasi Louis Di Usia 10 Tahun

Di usia 10 tahun Louis berhasil meraih beasiswa dari Royal Institution For Blind Youth di Paris, yang merupakan satu-satunya sekolah tuna netra yang ada saat itu di dunia. Buku-buku di sekolah tersebut dicetak dengan menggunakan sistem emboss, yaitu cetak menonjol sehingga bisa diraba oleh tangan. Sistem ini diciptakan oleh sang pendiri sekolah, Valentin Hauy.

Di Royal Institution For Blind Youth itu lagi-lagi Louis berhasil menjadi siswa brilian, walaupun disitu ia tercatat sebagai siswa termuda. Ia juga ternyata mempunyai bakat bermusik di dalam dirinya, terutama pada instrument piano, organ, biola dan cello.

Di sekolah ini Louis berpikir banyak mengenai sistem emboss yang ada, dia berpikir bagaimana mengembangkan sistem itu karena pada kenyataannya sistem emboss itu masih memiliki kelemahan karena tidak memungkinkan untuk para tuna netra menulis tulisannya sendiri dengan sistem emboss.

Suatu hari Louis datang ke sebuah ceramah dari seorang yang bekerja di kemiliteran yang bernama Charles Barbier. Tentara ini bercerita mengenai apa yang sedang dikerjakannya yaitu mengembangkan sistem sonografi, atau metode pertukaran kode menggunakan sistem emboss. Metode pertukaran kode ini menggunakan simbol-simbol praktis yang mewakili kata-kata tertentu dan bukannya menggunakan alfabet seperti yang ada di sistem emboss.

Metode yang digunakan oleh Charles Barbier ini pada jaman perang digunakan oleh para tentara untuk bertukar informasi. Namun sistem yang digunakan oleh Charles Barbier ini justru diragukan oleh pihak sekolah dan malah salah satu muridnya yang bernama Louis tertarik untuk mempelajari dan mengembangkannya. Louis Braille meneliti sistem yang digunakan oleh Charles Barbier ini selama tiga tahun.

Louis kemudian mengembangkan sistem Charles Barbier ini menjadi sistem yang dapat berguna dan lebih bermanfaat untuk kaum tuna netra. Setelah melalui serangkaian ujicoba akhirnya Louis Braille yang saat itu masih berumur 15 tahun berhasil membuat sebuah sistem yang memakai enam titik dan disesuaikan untuk ke dua puluh enam alfabet. Bahkan ia merancang kode untuk not musik dan matematika.

Kala itu yang menggunakannya baru Louis dan teman-temannya saja, teman-temannya sangat menyukai menggunakan sistem buatan Louis ini karena memudahkan mereka untuk membaca secepat orang yang bisa melihat. Sistem rancangan Louis Braille ini juga memungkinkan teman-teman tuna netranya untuk menulis dengan membuat lubang-lubang di kertas.

Memperkenalkan Rancangannya Ke Publik

Pada usianya yang ke-20 tahun, Louis Braille memperkenalkan rancangannya kepada publik. Pada 1834, ia melakukan demonstrasi di Paris Exposition of Industry, dan karyanya dipuji oleh pemimpin Perancis pada saat itu yaitu Raja Louis Phillippe. Ironisnya, para guru di sekolah Louis (yang mayoritas bukan tuna netra) menolak sistem tersebut. Jadilah sistem huruf emboss tetap menjadi satu-satunya metode yang diterapkan di sekolah tuna netra itu.

Pantang menyerah, pada 1829 Louis menerbitkan buku untuk memperkenalkan alfabet ciptaannya yang berjudul Method of Writing Words, Music and Plain Song by Means of Dots, for Use by the Blind and Arranged by Them.

Setelah lulus, Louis menjadi pengajar di almamaternya. Ia menjadi guru kesayangan para siswa, meski alfabetnya masih saja belum diterima kaum elit akademisi dengan berbagai alasan. Bahkan, direktur sekolah tempat Louis mengajar pernah membakar buku yang memakai abjad ciptaannya. Alat-alat tulis Louis juga disita dari tangan para siswa. Tak mau kalah, siswa-siswa yang jengkel meneruskan penggunaan hurus Braille dengan memakai jarum rajut, garpu, maupun paku.

Popularitas huruf Braille terlalu besar untuk bisa dibendung. Apalagi, Louis Braille terus memperbaiki dan menyempurnakan sistem kodenya agar semakin praktis untuk digunakan oleh kaum tuna netra.

Akhirnya setelah bertahun-tahun larangan penggunaan huruf Braille di Royal Institution For Blind Youth dicabut.Namun, Louis Braille justru harus mengundurkan diri dan pulang ke desanya di Coupvray karena ia menderita TBC.

Meski sejak kecil sering sakit-sakitan, sekolah tempat Louis mengabdi sebagai guru juga bukan lingkungan yang sehat, walaupun diakui sebagai sekolah tuna netra pertama di dunia, Royal Institution For Blind Youth menggunakan bangunan yang merupakan bekas penjara tua dengan ventilasi yang buruk. les bahasa inggris tanpa grammar

Di kampung halamannya, Louis Braille menghembuskan napas terakhirnya pada 6 Januari 1852, hanya dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-43. Ia dimakamkan dengan sangat sederhana di tanah milik keluarganya, bahkan obituarinya tak muncul di surat kabar Perancis.

Tak lama berselang, ditemukan kotak kayu milik Louis yang diberi label "Untuk dibakar! Jangan dibuka!". Tentu saja orang-orang penasaran dan membukanya. Ternyata, kotak itu penuh berisi catatan utang para siswa kepada Louis yang belum dibayarkan.

Dalam wasiatnya, Louis menulis harapannya agar semua utang para siswa pada dirinya dihapuskan. Louis juga berpesan kepada pihak sekolah untuk membantu para lulusan tuna netra mencari pekerjaan. Sementara itu, penghasilannya sebagai guru yang tidak seberapa diwariskan kepada keluarga dan seorang pemuda yang pernah menjadi asistennya. Dengan penuh rasa hormat, keluarga dan rekannya pun membakar kotak kayu itu.

Berpuluh tahun setelah kematiannya, barulah huruf Braille diresmikan penggunaannya untuk kaum tuna netra di seluruh dunia.

Dalam peringatan 100 tahun kematian Louis Braille, jenazahnya dipindahkan ke Paris dalam upacara megah, sementara sebuah monumen penghormatan didirikan di Coupvray, desa asalnya.

Rumah batu sederhana yang menjadi tempat tinggal keluarga Braille kini telah menjadi Louis Braille Museum dan dianggap sebagai bangunan bersejarah.