Friday, March 15, 2013

Perjalanan Hidup Bob Sadino

 Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.


Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100,-. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.

Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya. les bahasa inggris online


Profil dan Biodata Bob Sadino

Nama : Bob Sadino
Lahir : Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama : Islam

Pendidikan :
  • SD, Yogyakarta (1947)
  • SMP, Jakarta (1950)
  • SMA, Jakarta (1953)

Karir :
  • Karyawan Unilever (1954-1955)
  • Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
  • Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
  • Dirut PT Boga Catur Rata
  • PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
  • PT Kem Farms (kebun sayur)

Thursday, March 7, 2013

Marie Tussaud : Kisah Pengukir Lilin Yang Mengabadikan Tokoh Dunia

Mendengar nama Madame Tussaud's, kita langsung terbayang museum penuh patung lilin yang wajib dikunjungi. Meski sang pendirinya menyimpan sebuah kisah kelam, jaringan museumnya senantiasa menawarkan kegembiraan dan inspirasi.
Hidup Marie Tussaud berawal ketika ia lahir dengan nama Anna Maria Grosholtz pada 1 Desember 1761, di tengah keluarga miskin di Perancis. Lingkungannya begitu miskin hingga orang-orang disana biasa menjual gigi mereka agar bisa membeli makan.
Ayah Marie adalah seorang tentara, namun ia harus tewas terbunuh di tengah medan perang dua bulan sebelum putri kecilnya lahir. Sang ibu yang menjanda kemudian pergi ke Swiss untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter bernama Phillipe Curtius. Dokter yang baik hati ini mengizinkan ibu Marie dan bayi perempuannya untuk tinggal di rumahnya.
Sebagai seorang dokter, Curtius memiliki minat yang tidak biasa pada seni ukir lilin. Mulanya, sang dokter memakai materi ini untuk membuat model anatomi dan kulit manusia. Lama-kelamaan, ia gemar menjadikan lilin sebagai replika wajah manusia untuk kepentingan seni pertunjukan dan bisnis. Curtius pun meninggalkan karier medisnya.
Pameran-pameran karya Curtius selali disesaki pengunjung. Karena permintaan yang tinggi, ia memutuskan untuk pindah ke Paris. Marie yang kala itu berusia 6 tahun dan ibunya ikut pergi bersama majikan mereka. Marie kecil sangat dekat dengan Curtius, sampai-sampai ia memanggil sang dokter dengan sebutan "paman". Tak heran jika beredar desas-desus bahwa Marie adalah anak hasil hubungan gelap Curtius dengan ibunya.
Curtius-lah yang berjasa mengajari Marie ilmu-ilmu pemodelan lilin, dan dokter itu begitu bangga melihat bakat luar biasa yang ditunjukkan sang gadis belia. Tak lama kemudian, mereka bahu-membahu menjalani bisnis pameran lilin dan pemesanan patung. Klien mereka mencakup cendekiawan tersohor sampai kalangan kerajaan Perancis.
Curtius menjadi populer karena karyanya berupa patung lilin Madame du Barry, selir terakhir dari Raja Louis XV, sedangkan Marie, di usia yang baru beranjak 17 tahun, telah sukses membuat patung lilin tokoh besar seperti Voltaire dan Benjamin Franklin (kedua patung otentik ini masih dapat dilihat di museum Madame Tussaud's di London).

Karena berangkat dari latar belakang keluarga yang miskin, Marie tumbuh menjadi wanita muda yang ambisius dan perfeksionis dalam berkarya. Ia memiliki visi bahwa hidupnya harus terus menjadi lebih baik. Perjuangannya tak sia-sia, karena pameran patung lilin Marie mulai menarik perhatian keluarga kerajaan Perancis.
Pada 1780, ia diangkat menjadi guru seni Elisabeth, saudari raja. Dari jalanan kumuh yang menjadi tempat kelahirannya, Marie pindah ke istana Versailles yang glamor dan ikut dalam pesta-pesta mewah kerajaan.
Tak terasa, sembilan tahun Marie hidup di Versailles. Bakat dan karyanya menjadi pusat perhatian di istana, dan ia menjadi sahabat keluarga kerajaan. Tak ada rahasi Versailles yang tidak ia ketahui, kecuali satu: di luar sana, rakyat yang dipimpin oleh Robespierre sedang mendidihkan revolusi melawan kaum aristokrat.
Curtius yang mencemaskan keselamatan Marie segera melarikan gadisu itu keluar dari istana tepat sebelum Revolusi Perancis pecah. Namun, kaum revolusioner tetap mengejar Marie karena kedekatannya dengan pihak istana. Marie dan ibunya ditangkap dan dijebloskan ke penjara Laforce. Rambut keduanya digunduli sebagai persiapan sebelum kepala mereka dipenggal algojo.

Nasib Marie hampir saja berakhir di pisau guillotine. Syukurlah, berkat negosiasi Curtius, para penangkap Marie memutuskan untuk memberinya "ujian kesetiaan". Ia diminta membuat topeng kematian para anggota kerajaan yang kepalanya telah dipenggal.
Topeng kematian adalah replika wajah seseorang yang telah meninggal, yang biasa dibuat sebagai pengingat akan wajah dan keadaan seseorang setelah menghembuskan napas terakhir.
Dengan hati hancur, Marie yang bertubuh kurus kering harus mengaduk-aduk tumpukan jenazah keluarga kerajaan yang telah terpenggal. Tak pernah terbersit dalam benak Marie bahwa ia akan menjadi saksi musnahnya keluarga kerajaan Perancis. Tak hanya menjadi saksi, ia bahkan harus mengabadikan momen memilukan ini dalam bentuk topeng kematian.
Topeng kematian buatan Marie diarak keliling kota oleh para pemberontak. Setelah menuntaskan tugasnya dengan baik, Marie dan sang ibu dilepaskan.
Marie mendapat kesempatan untuk memulai hidup dari awal lagi. Tahun 1794, Curtius meninggal dan mewariskan bisnisnya yang mulai "rontok" untuk dikelola Marie. Bertekad untuk bangkit kembali, Marie menikah dengan insinyur sipil bernama Francois Tussaud. Ia menjalani kehidupan rumah tangga dengan mengasuh kedua putranya sambil menjalankan bisnis warisan Curtius. Marie pun mulai dipanggil dengan sebutan Madame Tussaud.
Ternyata kehidupan domestik tidak membuatnya bahagia. Ia juga sedih karena tidak bisa maksimal menjalankan bisnis patung lilinnya. Barangkali, setelah merasakan hidup di istana raja dan lolos dari pemenggalan kepala, menjadi ibu rumah tangga bukan pilihan tepat untuk Marie Tussaud. Pada 1802, ia memutuskan untuk meninggalkan suaminya dan pindah ke London dengan membawa putra sulungnya.
Di London, Marie bekerjasama dengan pengusaha sulap Paul Philidor. Kemudian, ketika kerja sama tersebut dirasa tidak menguntungkan, Marie membawa sendiri patung lilinnya berkeliling Irlandia dan Inggris Raya. Perlahan tapi pasti, bisnis Marie mulai meraih sukses.
Putra bungsunya, setelah menginjak usia 21, memutuskan untuk bergabung, dan pada 1835, mereka membuka ruang pameran permanen yang pertama di Baker Street, London. Di tengah keberhasilan bisnis patung lilin yang berkembang pesat, Marie meninggal dalam tidurnya di usia 88 tahun. Anak dan cucunya pun menjadi pewaris dari kerajaan lilin yang dibesarkannya.
Sekarang ini, siapa yang tak pernah mendengar tentang Madame Tussaud's? Jaringan museum yang telah berkembang menjadi 14 cabang di empat benua ini senantiasa menjadi pusat atraksi utama bagi para turis. Museum ini terutama terkenal karena menghadirkan tokoh-tokoh berprestasi di bidang masing-masing, seperti atlet pelari Usain Bolt yang dijuluki "Manusia Kilat" dan pejuang demokrasi peraih Nobel, Aung San Suu Kyi. Berkat Madame Tussaud's, kita bisa mencicipi rasanya "bertemu" dengan para idola, bahkan berfoto, merangkul, atau mencium mereka.
Selain prestasi, museum tersebut memilih tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam replika patung lilin berdasarkan opini publik modern. Maka, tak heran jika museum Madame Tussaud's dengan sigap meluncurkan replika Justin Bieber saat demam "Blieber" melanda dan replika Robert Pattison saat film Twilight mendunia.
Meski begitu, di balik segala ingar-bingar keceriaan dalam ruang pamer, terdapat perfeksionisme luar biasa dari para pekerja. Sebuah patung lilin memerlukan tak kurang dari 20 seniman yang bekerja selama 800 jam! pelajaran bahasa inggris
Kini, Madame Tussaud's telah mengabadikan berbagai tokoh dunia dari berbagai negara, dari Mahatma Gandhi sampai Lady Gaga, dari Julia Roberts sampai Jackie Chan, dan dari Presiden AS Barrack Obama sampai presiden pertama kita, Soekarno.
  • Topeng-topeng kematian karya Marie bisa anda saksikan di ruangan khusus bernama Chamber of Horror di Madame Tussaud's London - jika anda berani.
  • Patung yang paling banyak dicium oleh pengunjung adalah Kyle Minoque, sedangkan yang paling banyak dipeluk adalah Justin Timberlake. Biaya merawat dan permbersihan kedua patung ini pun membumbung tinggi.
  • Patung Jean Paul Gaultier yang memakai rok kilt terpaksa diberi celana setelah banyak pengunjung yang mengintip ke balik rok.
  • Patung lilin terbesar adalah replika dari Hulk, sedangkan patung terkecil adalah replika Tinkerbell.



Agatha Christie : Prahara Hidup Sang Pengarang Misteri

Bulan ini, seandainya ia masih hidup, Agatha Christie berusia 122 tahun. Tak banyak yang tahu, sang pengarang punya kisah hidup yang tak kalah dramatis dari karya-karyanya. Devon, Inggris, tahun 1890. Seorang bayi perempuan, anak bungsu dari antara tiga bersaudara, dilahirkan di tengah keluarga konservatif. Ia diberi nama Agatha May Clarissa Miller.
Meski keluarganya berkecukupan secara materi, sang putri cilik tidak pernah disekolahkan. Hanya ada tutor yang secara teratur berkunjung untuk mengajarkan Agatha berbagai ilmu dasar. Tak heran, Agatha kecil yang pemalu dan sensitif kerap menemukan dirinya menganggur dan bosan setengah mati. Kadang, ia menciptakan permainan untuk dirinya sendiri.
Setiap akhir pekan, keluarganya beribadah bersama di gereja. Agatha sendiri tergolong "anak mami" - selain sebagai ibu, Mrs. Miller kerap bertindak sebagai tutor pribadi Agatha. Ia juga yang menjadi sosok pertama yang mendorong Agatha untuk sering menulis.
Kehidupan Agatha baru mulai berwarna ketika Perang Dunia I meletus. Tepat di awal perang, yaitu pada 1914, Agatha yang baru berusia 24 tahun menikahi pilot pesawat tempur bernama Archibald Christie alias Archie, dan mengubah namanya menjadi Agatha Christie.
Saat Archie bertempur, Agatha bertugas sebagai perawat di rumah sakit. Di sini, dorongan kreatif Agatha kerap muncul saat ia menghabiskan waktu merawat tentara yang terluka, apalagi saat ia "berkenalan" dengan berbagai bahan kimia yang bisa dipakai sebagai racun, seperti strychnine dan ricin. Gagasan untuk menulis kisa misteri muncul di benaknya. belajar bahasa inggris mudah

Terciptalah detektif Hercule Poirot, pensiunan polisi Belgia yang berpenampilan necis dan berkumis tebal, dalam naskah berjudul The Mysterious Affair at Styles. Naskah ini disimpan oleh Agatha hingga 5 tahun lamanya, sebelum akhirnya terbit dan direspons positif oleh publik.
Sejak itu, Agatha merasa ia telah menemukan panggilan hidupnya yang sesungguhnya, yakni menjadi pengarang. Ia terus produktif berkarya, dan novel-novelnya selalu disambut hangat oleh penggemar maupun kritikus.

Wednesday, March 6, 2013

Virus Berbahaya

Ririn membolak-balik badannya dengan gelisah. Dia mencoba memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Ririn menghela napas. Terbayang olehnya peristiwa sepanjang hari ini.
Tadi siang, Lilis datang ke rumah Ririn. “Coba tebak,” katanya dengan senyum yang dikulum.
“Tebak apa?” tanya Ririn bingung.
“Tebak, mengapa aku senyum-senyum seperti ini?” jawab Lilis.
“Kamu menang undian? Kamu dibelikan mobil? Kamu.. gila? Hehehe..”
“Hehe. Aku diterima kerja, Rin! Di sebuah perusahaan internasional. Gajinya sesuai dengan apa yang aku mau. Ada bonus, cuti, tunjangan kesehatan, plus jalan-jalan yang dibayarkan oleh perusahaan. Aduh.. aku senang sekali. Tuhan baik banget sama aku ya, Rin.”
Wajah Ririn berubah jadi pucat. “Oh.. selamat ya.”
Lilis mengamati wajah Ririn. “Kok kamu kelihatan sedih? Kamu tidak senang aku dapat pekerjaan, Rin?”
“Ah… tentu saja aku senang. Masa aku sedih? Aku cuma kaget saja. Beritanya kan mendadak.“ Ririn tersenyum manis.

“Iya, memang mendadak. Mengagetkan, ya? Kamu tenang saja, nanti setelah dapat gaji pertama, aku traktir!”
“Janji ya..!”
Lilis masih terus bercerita mengenai perusahaan tempat dia nanti akan bekerja. Ririn mendengarkan sahabatnya bercerita sambil sesekali tersenyum dan mengangguk. Tapi bila ditanya, dia tidak ingat lagi apa yang ia dengar. Hatinya kacau.
Tak lama setelah Lilis pulang, handphone Ririn berbunyi.
“Hai Yen. Apa kabar? Tumben nih, telepon siang-siang.”
“Hai, Rin. Kabarku luar biasa baik. Coba tebak, apa yang terjadi?”
Ririn menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tadi Lilis menyuruh dia menebak, sekarang ada Yenny yang meminta dia menebak juga. Apa sih yang terjadi hari ini? Hari kuis?
“Hei, Rin. Kok diam saja? Aku saja deh yang cerita. Aku sudah ngga sabar.”
“Oh iya, Yen. Kamu saja yang cerita. Kedengarannya kamu gembira sekali.”
“Luar biasa gembira, Rin. Sekarang aku sudah punya pacar! Hihihi… aneh, deh, nyebut kata pacar, belum biasa sih. Aku sudah ngga jomblo lagi, Rin. Status facebook-ku sekarang sudah ‘In a Relationship’. Bukan ‘Single’ lagi! Yeah!”
“Oh… selamat, ya Yen….”
“Thanks, Rin. Kamu orang pertama yang aku kasih tahu, lho. Cerita detailnya nanti aku ceritain waktu kita ketemu. Oh, sudah dulu ya, Rin. Cowokku telepon nih. Bye.”
“Bye….”
Ririn membolak-balik badannya lagi. “Huh…. Hari ini hari apa sih? Mengapa semua orang dapat berita gembira? Lilis dapat pekerjaan yang oke, Yenny dapat pacar. Aku dapat apa? Ngga ada satu pun. Tuhan sepertinya pilih kasih. Aku sudah melamar kerja kemana-mana, tak satu pun yang memanggil. Aku sudah coba berteman dengan siapa saja, tidak ada yang suka sama aku. Mengapa Tuhan tidak memberikan satu pun yang aku inginkan?”
“Perlahan, setitik air mata mengalir di pipinya. Akhirnya, Ririn tertidur.
“Indahnya…. Matahari terbit memang indah.”
Ririn menarik napas dalam-dalam. Badannya sudah lebih enak sekarang. Tadi pagi saat bangun, kepalanya terasa pusing. Dia sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya gelisah. Ia pun memutuskan pergi ke pantai ini.
Ririn menggeser posisi duduknya sehingga lebih nyaman. Angin bertiup sepoi-sepoi. Suasana pantai terasa tenang. Ririn memejamkan matanya.

Puk. Ririn menoleh.
“Hei, Rin. Tumben kamu ada di sini.”
Seraut wajah manis tersenyum padanya, lalu dia mengambil posisi duduk di samping Ririn.
“Nana… benar kamu Nana? Kok kamu bisa ada di sini?”
“Seharusnya aku yang tanya ke kamu, Rin. Setiap hari aku ke sini, tapi baru kali ini aku melihat kamu ada di sini.”
“Oh….iya. Kadang-kadang aku ke sini tapi biasanya sore hari. Hari ini saja aku datang pagi. Kamu gimana kabarnya?”
“Kabarku baik, seperti yang kamu lihat. Masih bernapas, kan?”
“Ah, kamu memang bisa saja. Kamu sudah bekerja sekarang?”
“Aku sudah tidak kerja, Rin. Kamu kan tahu apa yang terjadi. Sulit bagiku mencari pekerjaan, Rin.”
“Maaf ya Na. Aku tidak bermaksud untuk…”
“Ngga apa, Rin. Aku baik-baik saja, kok. Aku bahagia dengan keadaanku yang sekarang.”
“Kok bisa? Maksudku, kamu memang terlihat bahagia, padahal kamu…. Kamu…”
“Sekarat.”
“Maaf, Na. Aku tidak bermaksud…”
“Ah, ngga papa. Jangan meminta maaf. Dari tadi kamu minta maaf terus sih. Jadi ngga enak, kan?”
“Iya, Na.. Maaf…yah, maaf lag, nih.”
“Hahaha. Iya, sudahlah.”
“Tapi benar. Kamu terlihat bahagia. Padahal kamu lagi sakit. Apa rahasianya?”
“Rahasia? Hm, apa yah? Sepertinya ngga ada. Apa benar aku terlihat bahagia, Rin?”
Ririn mengangguk, “Iya”.
“Thanks, Rin. Hm, aku cuma belajar bersyukur aja. Iya, sepertinya begitu saja.”
“Bersyukur?? Kok bisa? Atas apa? Atas rasa sakit ini? Atas keluarga kamu yang…yang..”
Nana mengangguk, “Iya, Rin. Atas semuanya. Karena penyakit ini, aku menjalani hidup dengan lebih bijaksana, karena aku tidak tahu kapan akan mati. Aku ingin melayani Tuhan dan sesama sebanyak yang aku bisa. Iya, bersyukur atas keluargaku juga. Memang, kadang rasanya sangat menyedihkan, tapi paling tidak aku masih punya keluarga. Banyak orang tidak punya keluarga, kan? Jadi beginilah…jalani saja hari demi hari. Ah, mengapa jadi serius begini, ya?”
“Kamu hebat, Na. Benar-benar hebat. Apa kamu tidak pernah merasa iri hati? Apa kamu tidak marah kepada Tuhan? Kamu tidak bisa menjalani hidup dengan normal.”
“Aku tidak sehebat itu, Rin. Aku pernah iri, Rin. Aku juga pernah marah kepada Tuhan. Aku ingin bekerja seperti kamu, juga ingin pacaran.”
“Tapi kamu bisa mengatasinya, kan?”
“Iri hati itu seperti virus, Rin. Virus berbahaya yang mudah sekali menyebar. Kalau tidak diusir, lama-lama membuat hati kamu penuh dengan dosa. Kamu marah kepada Tuhan, keluarga, teman-teman. Kamu malas melakukan apa pun. Kamu menyerah. Bahkan kamu juga bisa sakit parah, lho.”
Ririn mengangguk. les bahasa inggris dewasa
“Hitung berkat satu per satu, jangan ada yang dilupakan…” Nana bersenandung gembir.
“Kamu bisa saja, Na.”
“Itu lagu yang sering aku nyanyikan kalau ‘virus’ tadi datang, Rin. Oke, Rin, aku harus pulang sekarang. Bye. Rin.”
“Bye, Na.”
Ririn melambaikan tangan pada Nana. “Thanks Na. Aku tidak akan membiarkan virus itu menyebar lebih jauh.”
Kring. Kring.
“Halo, Lis. Iya, nanti pasti aku temani kamu ke mall beli baju kerja. Oke, bye…”

Nyanyian Si Burung Penuntun Madu

Di Afrika, ada burung unik bernama honeybird atau burung penuntun madu. Burung kecil ini berjasa “menuntun” manusia ke sarang lebah penghasil madu lewat kicauannya. Inilah legenda di balik nyanyian burung tersebut.
Dahulu kala, di selatan Afrika, hiduplah kakak beradik bernama Thulani dan Tithembile. Meski bersaudara, mereka memiliki sifat yang jauh berbeda. Thulani adalah anak yang penakut, sedangkan Tithembile lebih pemberani dan suka bertualang.
Suatu hari, desa kecil tempat tinggal Thulani dan Tithembile dilanda kelaparan. Sudah berhari-hari warga desa tidak berhasil menemukan hewan buruan untuk dimakan. Thulani dan Tithembile ingin bisa membantu. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki keluar dari desa dan mencari makanan, sejauh apa pun jarak yang mereka tempuh.
Untuk waktu lama, kedua bocah tersebut berjalan melintasi padang rumput yang gersang, lantas tiba di wilayah padang belukar yang jarang didatangi orang. Rerumputan liar di sana tumbuh tinggi, tak ada manusia maupun hewan yang tampak, dan Thulani mulai ketakutan. “Sebaiknya kita tidak berjalan lebih jauh lagi,” katanya pada Tithembile.
Tapi, bukan Tithembile namanya kalau tidak bersikap berani. Ia ingin terus berjalan karena yakin akan menemukan makanan bagi desa mereka.
Mendadak, terdengar suara kicauan burung. Tithembile mendongak ke atas, menatap burung kecil warna coklat yang muncul tanpa diduga. “Hei, lihat, burung ini mengajak kita mengikutinya,” kata Tithembile.
Thulani menggelengkan kepalanya. “Jangan dengarkan burung itu. Aku takut kita bakal tersesat.”
Tetapi Tithembile berjalan terus mengikuti burung kecil tersebut, meninggalkan adiknya yang penakut di belakang. Tithembile terus berjalan sampai bertemu dengan sebuah kendi dari tanah liat dalam posisi terbalik. Di situ, burung tersebut terbang rendah dan mengitari kendi tersebut.
Pada saat itu, Thulani telah berlari mengejar kakaknya, tapi ketika ia melihat kendi terbalik itu, ia kembali diserang rasa takut. “Ayo, kita tinggalkan saja tempat ini,” bisiknya pada sang kakak. Tapi mata Tithembile terpaku pada burung kecil yang terus terbang memutari kendi itu.
Bocah itu berlutut dan bertanya, “Apa yang kau inginkan, burung mungil?”. Sebagai jawabnya, burung itu mulai bernyanyi. Suaranya merdu sekali.
Tithembile menjulurkan tangan dan membalik kendi itu. Dari dalamnya, keluarlah seekor ular yang sangat besar. Sebelum kedua bocah itu sempat bereaksi, ular tersebut membuka mulut dan berbicara, “Ikuti aku,” desisnya.
Dengan gemetar, Thulani menangis, “Tidak! Kakak, kita harus lari, sekarang juga!”.
Namun Tithembile merasa penasaran. Ia pun mengikuti ular tersebut masuk semakin jauh ke dalam padang belukar sampai mereka tiba di depan sebatang pohon akasia. Sebuah kapak tersangkut di tengah-tengah pohon itu.
“Potonglah pohon itu, “ perintah si ular.
Tithembile langsung memegang kapak erat-erat, lantas mencabut dan mengayunkannya ke batang pohon. Tak disangka, ayunan pertama membuat seekor sapi keluar dari tengah batang pohon. Ayunan berikutnya membuat seekor domba keluar. Dengan setiap ayunan kapak, hewan-hewan terus keluar dari batang pohon, hingga tak lama kemudian Tithembile sudah dikelilingi sekumpulan besar hewan ternak.
“Sekarang, giring hewan-hewan ini pulang ke desamu,” kata ular tersebut. “Jangan lupakan jasa burung kecil yang telah membebaskan aku, sehingga aku bisa memberikan hadiah ini kepadamu.”
Tithembile mengangguk. “Terima kasih,” katanya. Lalu ia berbisik dan menggiring hewan-hewan itu pulang.

Ketika Thulani melihat kakaknya datang diiringi sekelompok besar hewan, ia terheran-heran.
“Lihat kan, adikku,” ujar Tithembile, “tidak ada alasan untuk merasa takut.”
Ia kemudian menceritakan apa yang telah terjadi pada adiknya. “Mulai sekarang, kita harus berjanji bahwa setiap kali ada seekor burung kecil warna coklat menghampiri kita, kita harus mendengarkan dan mengikuti ajakannya.”
Thulani mengangguk-angguk, tapi yang ada di pikirannya bukanlah burung kecil yang telah berjasa, melainkan keserakahan. Ya, hati Thulani kini dipenuhi rencana jahat untuk merebut hewan-hewan itu dari kakaknya, supaya warga desa mengelu-elukan dirinya dan bukan Tithembile.
Kakak beradik itu berjalan pulang bersama-sama. Tak lama, hewan-hewan tersebut mulai melenguh dan mengembik karena kehausan.
“Kita harus menemukan sumber air,” ujar Tithembile. Thulani setuju, karena lehernya juga terasa amat kering.
Tak lama, mereka tiba di sebuah tepi tebing yang curam. Di bawah tebing itu, mengalir sungai dengan air yang jernih, Tithembile punya ide. Dengan tali yang mereka bawa, mereka akan mengikat tubuh satu sama lain, lantas bergantian menurunkan diri ke bawah untuk minum.
Thulani mendapat giliran pertama. Dengan tali terikat erat di pinggangnya, kakaknya menurunkannya ke tepi sungai. Setelah ia puas minum, Tithembile menariknya ke atas. Tiba giliran Tithembile, begitu ia sudah menurunkan kakaknya ke sungai, Thulani melihat kesempatan untuk melaksanakan niat jahatnya.
“Aku akan meninggalkan Tithembile di bawah supaya aku bisa pulang bersama hewan-hewan ini dan menjadi pahlawan desa!” batin Thulani.
Setelah Tithembile turun ke sungai, Thulani melempar ujung tali bagiannya ke bawah, lantas ia berlari pulang.
Ketika Thulani sampai, warga desa terkejut melihat bocah itu pulang membawa banyak hewan. Rasa terkejut itu tak lama berubah menjadi kebahagiaan karena akhirnya mereka bisa makan. Thulani pun dipuja-puji.
“Tapi, dimana Tithembile?” tanya mereka, cemas.
Thulani angkat bahu. “Tadi ia kelelahan di jalan, lalu memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Nanti juga ia pulang.”
Tentu saja, hingga malam tiba, Tithembile belum juga kembali. Namun, tak ada yang mencurigai Thulani. Apalagi, Tithembile dikenal sebagai petualang yang pemberani. Warga desa yakin, bocah itu pasti akan kembali.
Esok harinya, para wanita desa pergi mencuci pakaian di sungai. Tak biasanya, pagi itu mereka melihat seekor burung kecil warna coklat yang terbang berputar-putar di atas kepala mereka sambil berkicau.
“Lihat, burung ini ingin kita mengikutinya,” seru salah seorang wanita yang hendak mencuci. “Ayo, kita panggil lelaki di desa untuk ikut.” les bahasa inggris anak
Tak lama kemudian, sebagian besar warga desa sudah keluar dari rumah mereka karena penasaran mendengar tentang seekor burung yang bisa menuntun mereka ke suatu tempat. Mereka semua mengikuti burung itu hingga tiba di tebing di atas sungai. Di sana, sang burung kecil bernyanyi sekuat tenaga, lantas terbang ke bawah dan mendarat di kaki Tithembile.
Alangkah terkejutnya para penduduk desa saat melihat Tithembile ada di bawah tebing curam. Dengan sigap, para lelaki menurunkan tali tambang untuk menyelamatkan Tithembile.
Setelah kembali berada di atas tebing, Tithembile menuturkan kisah pengkhianatan adiknya. Namun, ia melarang penduduk desa menghukum Thulani. Sebaliknya, ia mengajak warga memikirkan cara berterima kasih atas jasa si burung kecil.
Meski begitu, Thulani yang mendengar bahwa kakaknya telah ditemukan  memutuskan untuk kabur dari desa itu dan tak pernah kembali. Sebagai gantinya, burung kecil tersebut kini tinggal bersama warga desa dan dipelihara dengan baik. Ternyata, burung tersebut juga pintar menemukan sarang lebah madu, sehingga warga menjulukinya honeybird alias burung penuntun madu.
Sejak itu, setiap kali burung penuntun madu bernyanyi, warga Afrika yang mendengarnya akan mengikuti ajakannya.

Tuesday, March 5, 2013

Vincent van Gogh : Pusaran Badai Hidup Sang Jenius Seni

Vincent van Gogh adalah maestro pelukis dengan karya dan kisah hidup yang tidak biasa. Bak goresan kuasnya yang penuh lika-liku dalam lukisan Starry, Starry Night, kehidupan Vincent van Gogh juga penuh pusaran badai yang kemudian menghabisi nyawanya.
Kehidupan Vincent van Gogh yang penuh badai berawal dengan damai dan tenang di sebuah kota kecil di Belanda. Pada 30 Maret 1853, Theodorus can Gogh, pendeta setempat, dianugerahi anak pertama yang dinamai Vincent. Ia dididik dengan religius dan tumbuh menjadi anak saleh. Vincent juga disayangi kelima adiknya yang lahir kemudian.
Di usia 16 tahun, setelah menuntaskan sekolah di kota kecilnya, Vincent memutuskan untuk mengikuti jejak sang paman sebagai penjual karya seni. Ia memulai karier barunya di Belanda, dan ketika usahanya semakin berkembang, Vincent harus sering bepergian ke Inggris dan Perancis. Awal yang menjanjikan untuk seorang pria muda.
Satu kali, ketika sedang menetap di Inggris untuk menjual karya-karya seni, Vincent berkenalan dengan perempuan setempat, putri dari pemilik kontrakan tempatnya tinggal. Vincent jatuh cinta padanya, namun cinta pertama ini berujung penolakan. Merasa depresi, Vincent pun meninggalkan bisnisnya begitu saja. Ia kembali ke kota kelahirannya dan mengikuti jejak sang ayah, mempelajari teologi.
Meski penuh semangat untuk menjadi pelayan Tuhan, Vincent gagal di beberapa mata pelajaran. Salah satu argumennya yang mencolok kala itu adalah penolakan terhadap penggunaan bahasa Latin dalam khotbah untuk kaum marjinal. Padahal, Vincent dekat dengan golongan tak mampu, seperti dengan kaum buruh tambah. Niat Vincent menjadi pendeta pun pupus.
Suatu kali, sebuah panggilan bergema kuat di benak Vincent. Ia ingin melakukan sesuatu yang lebih, meninggalkan jejak yang abadi. Sudah lama Vincent suka melukis, dan Theo, adik yang paling dekat dengannya, selalu mendorong sang kakak untuk melukis. Theo yang juga berkarier sebagai pedagang barang seni bahkan rela membiayai Vincent mengikuti pendidikan seni di Academie Royale des Beaux-Arts, Belgia, selama sembilan bulan.

Di usia 27 tahun, setelah merampungkan studinya, Vincent pulang ke rumah orang tuanya untuk melukis secara profesional. Sebagai seorang perfeksionis, Vincent tak ragu melakukan banyak eksperiment dan riset mendalam untuk memperkuat ilmu seninya secara otodidak. Objek-objek awalnya adalah pemandangan pedesaan atau figur para buruh tambang.
Pada 1881, dengan karier seni yang masih redup (lukisannya banyak diprotes karena tidak memakai warna-warna cerah seperti trend kala itu), Vincent kembali jatuh cinta. Kali ini, ia jatuh hati pada saudara sepupunya sendiri, Cornelia Adriana. Namun, Cornelia tak dapat menerima cinta Vincent karena wanita itu masih berduka atas kematian suaminya.
Tak lama, Vincent mulai menunjukkan gejala sakit mental. Ia pindah dari rumah orangtuanya untuk tinggal dengan sepupunya yang juga pelukis, Anton Mauve. Namun, dari rumah terdengar kabar bahwa sang ayah sakit keras. Vincent pulang ke Belanda dan mendirikan studio untuk berkarya di dekat rumah orang tuanya. Tetap saja, lukisan Vincent masih belum laris meski ia telah beradaptasi dengan gaya lukisan kala itu dan menerima masukan dari kritikus seni.
Suatu hari, Vincent kembali jatuh cinta, kali ini dengan Margot Begemann, putri tetangganya. Hubungan Vincent dan Margot cukup serius dan mereka telah merencanakan pernikahan. Sayang, orangtua Vincent maupun Margot menentang habis-habisan. Margot yang putus asa sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak racun.
Ayah Vincent meninggal tak lama kemudian. Dalam kondisi depresi, Vincent pergi jauh dari rumahnya dan tiba di Paris. Di sana, ia tinggal bersama seniman terkenal Paul Gauguin, sambil sama-sama membangun mimpi untuk sama-sama membuat sebuah komunitas seni.
Namun, kondisi kesehatan Vincent makin lama makin memburuk – serangan epilepsi dan delusi mulai mengganggu kesehatan jiwanya. Satu kali, pertengkaran pecah antara Vincent dan Gauguin, dan Vincent sempat mengejar temannya dengan pisau. Pulangnya, dalam rasa kalut yang luar biasa, Vincent nekat memotong satu telinganya. Ia masuk rumah sakit dan ketika pulang, ia mendapati Gauguin telah pergi.
Pada 1888, Vincent mendaftarkan diri ke sebuah pusat perawatan mental di Saint Remy de Provence. Di sinilah Vincent berkarya dengan bebas, tanpa dikecewakan wanita atau sahabat. Vincent melukis dengan sangat produktif. Hampir setiap hari ia menghasilkan satu lukisan dengan kualitas tinggi.
Vincent telah terbiasa memasukkan warna cerah dan goresan yang unik pada karya-karyanya. Lukisan Vincent di masa ini menggambarkan kehidupan sehari-hari, seperti suasana kafe atau langit malam, namun goresan dan simbol di dalamnya benar-benar menggambarkan kondisi mental dan kehidupan personal Vincent.
Sayang, karena karya-karyanya tidak pernah diapresiasi, Vincent memandang hidupnya sebagai sebuah kesia-siaan. Suatu hari, Vincent menembak dadanya sendiri dan meninggal dua hari kemudian. Usianya baru 37 tahun.
Theo, adik kesayangan Vincent yang terus mengumpulkan karya-karya sang kakak, meninggal enam bulan kemudian. Janda Theo, Johanna Gesina, memutuskan mempublikasikan lukisan-lukisan kakak iparnya. Ternyata, karya Vincent mendapat popularitas tinggi dalam waktu singkat. Nama Vincent van Gogh mendadak terkenal dan karyanya diburu kolektor dengan harga tinggi. Bahkan, gaya lukisan Vincent turut mengubah tren lukisan kala itu dan membidani kelahiran aliran post-impresionisme. Kisah hidupnya yang penuh “badai” pun menjadi legenda.belajar bahasa inggris anak kecil
Tak lama setelah kematiannya, acara peringatan yang didedikasikan untuk Vincent van Gogh digelar dimana-mana. Seharusnya, inilah akhir yang indah dari perjalanan sang seniman, seandainya saja ia hidup cukup lama untuk menyaksikannya.

Karya-Karya Vincent van Gogh

The Potato Eaters

Lukisan yang menggambarkan lima orang sederhana yang duduk dan makan kentang ini dalah salah satu karya awal Vincent. Terinspirasi dengan kedekatannya dengan kaum marjinal, lukisan yang pada awalnya kurang diapresiasi tersebut kini dianggap salah satu mahakarya Vincent van Gogh.

Sunflowers

Vincent beberapa kali melukis bunga matahari yang menunjukkan intensitas unik dalam sesuatu yang sederhana. Lukisan bunga matahari paling terkenal adalah yang ia buat khusus untuk menghias kamar seniman Paul Gauguin.

Starry, Starry Night

Jika karya-karya Vincent diibaratkan teater, maka lukisan yang dibuat Vincent di rumah sakit jiwa ini adalah klimaksnya. Konon, goresan-goresan intens yang berliku mencerminkan kondisi emosional sang pelukis yang tidak stabil.

Self-Potrait

Jika di Indonesia kita punya Affandi yang kerap melukis potret diri, maka di dunia internasional ada Vincent van Gogh yang melukis lebih dari 30 potret diri. Ini bukan narsisme. Melukis diri adalah media Vincent untuk melakukan introspeksi atas hidupnya, juga untuk melatih keterampilan seninya.

Fakta


  • Semasa hidupnya, Vincent van Gogh hanya berhasil menjual satu dari sekitar 1.900 karya yang ia hasilkan.
  • Meski menderita gangguan mental, Vincent sesungguhnya sosok yang sangat cerdas dan menguasai beberapa bahasa sekaligus.
  • Kekaguman terhadap sosok Vincent van Gogh membuat musisi Don McLean menggubah lagu berjudul Vincent. Lagu tersebut menjadi hits pada era 1970-an di Inggris dan Amerika, dan banyak dinyanyikan ulang oleh para musisi, termasuk oleh Josh Groban.