Skip to main content

Rubah Yang Lapar

Pada suatu hari yang panas, rubah sedang berburu tetapi ia tidak sedang beruntung. Sat ia berjalan di sebuah jalan yang kotor, perutnya berbunyi begitu keras sehingga ia nyaris tidak bisa mendengar angin musi panas. Tetapi ia tiba-tiba mendengar sebuah lagu yang begitu keras sehingga tidak dapat mengdengar suara erangan perutnya yang lapar.

"APakah itu suara Kutilang bernyanyi?" tanya rubah kepada dirinya sendiri, dan ia mengendap ke balik semaik untuk menginati.

Tiba-tiba, ia melihat bulu seekor burung Heorn dan rubah bersiap untuk menerkamnya. Tetapi saat ia memperhatikan, bulu itu aik semakin meninggi. Segera saja ia melihat bahwa tidak ada burung yang merekat pada bulu itu. Ia malah melihat bahwa bulu itu terekat pada topi yang dikenakan oleh seorang pria jangkung yang kuat dan sedang menunggang kuda.

Rubah mulai gemetar. "jika orang itu melihatku, ia akan memanah aku," ucapnya. Ia meringkuk menyembunyikan diri. Kuda dan pria itu semakin mendekat. Rubah dapat mendengar kata-kata yang dinyanyikan oleh pria itu, sebuah lagu yang penuh keberanian dan keangkuhan.

"Aku adalah Bulu Heran, pria muda yang paling berani dan tampan. Tidak ada orang yang lebih kuat atau pintar. Dan tidak ada nelayan yang lebih baik! Kekasihku pasti ingin menikah denganku." Sekarang Rubah paham. Bulu Heron sedang berangkat menemui gadis impiannya, dan pakaiannya, kudanya serta lagunya dimaksudkan untuk membuat kekasihnya terkesan. Tetapi yang paling mengesankan bagi Rubah adalah kantung yang dibawa oleh Bulu Heron, kantung yang diikat ke gulungan selimutnya.

Rubah mengendus udara. Ya, benar! Kantung itu penuh dengan ikan segar! Pada saat itulah ketakutannya menghilang. Ia harus mendapatkan ikan-ikan itu! Rubah begitu lapar sehingga ia tahu bahwa harus mendapatkan kantung itu!

Ia lari menembus semak, sejajar dengan jalan, tanpa pernah membiarkan Bulu Heron hilang dari pandangannya. Ia lari sekencang mungkin sampai ia berada di depan kuda. Kemudian ia berbaring di jalan, memejamkan mata, membuka mulut dan membiarkan lidahnya menjulur keluar.

Ia menunggu sampai ia mendengar lagu Bulu Heron mendekat. "Dia, perut!" bisiknya kepada perutnya yang mengerang lapar, dan betul saja, begitu Bulu Heron mendekat, ia melihat Rubah terbaring di jalan. "Oh, lihat itu!" tawanya. "Betapa eloknya rubah kuning ini! Kekasihku akan terkesan jika aku membawa bulunya kepadanya!"

Bulu Heron berhenti dan melompat turun dari kudanya. Ia memungut ranting dan menusuk-nusuk Ruba. Rubah berdiam diri.

"Hmmm," kata Bulu Heron, dan ia membungkuk untuk mencermati Rubah dan menyentuh bulunya. "Halus sekali. Aku akan membawanya bersamaku." Ia membalik dan membuka ikatan kantungnya- kantung yang penuh ikan lezat.

"Ketika kekasihku melihat rubah ini," ujar Bulu Heron, "ia akan tahu betapa hebatnya aku. Dia bukan hanya akan tahu bahwa aku adalah nelayan yang hebat, ia akan tahu bahwa aku adalah pemburu yang hebat."

Memang benar, Bulu Heron tidak menangkap ikan-ikan itu, ia membelinya dari temannya. Tetapi ia adalah pria muda yang angkuh, dan dusta tidak menjadi masalah baginya. Jadi ia mengangkat Rubah dan memasukannya ke dalam kantung. Kemudian ia menutup kembali kantungnya, enaiki kudanya dan melanjutkan perjalanan.

Ia mulai menyanyi tentang kehebatannya dirinya sebagai seorang pemburu. "Pemburu terbaik di negeri ini, Bulu Heron! Ia akan menjadi suami yang sempurna!" Selama beberapa menit, Rubah hanya mendengarkan. Ia menahan diri, meski ia ingin tertawa terbahak-bahak. Tetapi setelah ia yakin bahwa Bulu Heron tidak sedang memperhatikan, ia mulai menggigiti kulit kantung. Ia terus menggigit sampai terbentuk sebuah lubang yang cukup besar. Kemudian satu per satu, ia menjatuhkan ikan keluar dari kantung.

Ketika semua ikan sudah keluar, ia menggigiti lagi kulit kantung sampai lubangnya cukup besar untuk meloloskan diri. Rubah memakan sendiri semua ikan itu. "Oh, betapa eloknya aku!" nyanyi sang Rubah. "Aku telah mengelabhui Bulu Heron!"

Sementara itu, Bulu Heron terus berjalan ke rumah kekasihnya, dan di sana ia berhenti. Ia mulai menyanyi, "Aku adalah Bulu Heron, nelayan dan pemburu terbaik di negeri ini, aku datang membawa hadian untuk semua orang!"

Segera saja orang-orang mulai berkumpul, termasuk Ranting Mengayun dan ibunya, "Mari kita lihar kelimpahanmu," kata ibu Ranting Mengayun, dan Bulu Heron meraih kantungnya.

"Engkau akan melihat hadiah-hadiah yang jaya dari Bulu Heron," nyanyinya, dan ia merogoh kantungnya. Begitu ia menyentuhnya, ia tahu bahwa ada yang tidak beres. Ia menoleh dan memperhatikan. Sebuah lubang besar menganga di alas kantungnya yang kosong. Untuk pertama kalinya pada hari itu ia berhenti bernyanyi. Ia menatap ke bawah kepada kekasihnya dan ibunya dan wajahnya memerah, "Omong konsong besar!" Semua orang mulai tertawa.

Merasa malu, Bulu Heron hanya memutar kudanya dan segera berlari pergi. Kali ini ia tidak bernyanyi, tetapi pasti Rubahlah yang bernyanyi.





Belajar Bahasa Inggris Di Jakarta


Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Vincent van Gogh : Pusaran Badai Hidup Sang Jenius Seni

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…