Thursday, February 16, 2017

Berkunjung ke Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon

Warna Warni - Sebuah pintu berukuran liliput menyimpan makna yang sangat besar untuk diresapi.
Saat waktu ashar menjelang, tiba-tiba saja suami melontarkan ide untuk shalat ashar berjama’ah di Masjid Sang Cipta Rasa. Meskipun saya asli orang Cirebon, terus terang saya belum pernah shalat di sana.

Berkunjung ke Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon

Masjid ini berada di Kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon. Tepatnya di bagian depan keraton, bersebelahan langsung dengan alun-alun Kasepuhan. Berbeda dengan masjid pada umumnya di Indonesia yang menggunakan nama berbahasa Arab, masjid ini mengambil namanya dari bahasa lokal. “Sang” dari Sang Cipta Rasa memiliki arti “keagungan”, sementara “cipta” bermakna “pembangun” dan “rasa” bermakna “manfaat”.

Begitu datang ke area masjid, kami disuguhi lansekap bangunan klasik dengan atap berbentuk limas dan pagar memanjang yang terbuat dari bata merah. Pagar ini mengelilingi sekujur bangunan masjid yang menjadi ciri khas masjid kuno di Cirebon.

Pada bagian gerbang utama terdapat daun pintu lebar berwarna hijau-putih dan kaligrafi Arab yang dinukil dari ayat Al Qur’an. Kurang lebih kaligrafi itu memiliki arti “ambillah perhiasanmu ketika memasuki masjid”. Sebuah ajakan sekaligus teguran yang indah bagi saya, tentang pentingnya berdandan rapi di hadapan Allah.

Kebetulan saya dan suami datang tepat saat adzan berkumandang. Sayang, waktu itu adzan tidak dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin, praktek tersohor yang kerap dilakukan di masjid ini dengan sebutan lain adzan pitu. Kumandan adzan tujuh muadzin hanya terjadi setiap shalat Jumat.

Konon, adzan tujuh muadzin ini dikumandangkan berdasarkan perintah Sunan Gunung Jati. Adzan pitu kini malah menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari Masjid Sang Cipta Rasa.

Kami shalat berjamaah bersama warga sekitar di bagian pelataran masjid yang sangat luas. Di bagian tengah pelataran ini terdapat ukiran kayu jati yang indah. Katanya, bagian ini adalah wilayah kekuasaan Kesultanan Kanoman. Sementara, bagian utama masjid menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Kasepuhan. Tidak sembarang orang dapat masuk ke dalam bagian inti masjid yang dipenuhi benda bersejarah, kecuali seizin pengurus masjid.

Namun, yang paling menarik perhatian saya adalah pintu masuk ke bagian inti yang sangat kecil dibanding pintu masuk masjid kebanyakan. Ukurannya Cuma selebar 30 cm dengan tinggi 160 cm. Seakan pintu ini dibuat oleh para lilipu atau kurcaci.

Penjaga masjid mengatakan, pintu ini sengaja dibuat mungil agar raja, menteri, bangsawan, atau rakyat jelata sekalipun masuk ke dalam masjid dengan posisi menunduk. Pintu ini memberi tanda bahwa semua manusia sama di hadapan Allah yang tidak membedakannya berdasar status, tetap ketakwaannya semata.


Di Sekitar Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon



Keraton Kasepuhan

Masjid Sang Cipta Rasa berdekatan dengan Keraton Kasepuhan. Ini tidak boleh dilewatkan begitu saja untuk sekalian mengunjunginya. Keraton Kasepuhan menyimpan banyak sekali benda yang menyimpan cerita-cerita bersejarah, seperti keris dan kereta kencana singa barong. Ada satu sudut keraton yang menarik perhatian saya, yakni dinding dengan relief kembang manggis. Relief berusia tua ini menyimpan filosofi kejujuran layaknya buah manggis.

Keraton lainnya adalah Keraton Kacirebonan yang berjarak 500 meter ke arah barat masjid. Di tempat ini terdapat sanggar kesnian tari yang masih melestarikan tari topeng Babakan khas Cirebon.
Keraton Kanoman dan Keraton Kaprabonan terdapat di bagian utara masjid atau tepatnya di Kompleks Pasar Kanoman. Sama seperti Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman menyimpan banyak sekali benda bersejarah yang masih dan pernah digunakan oleh tokoh-tokoh sejarah Kesultanan Cirebon.


Oleh-oleh Khas Cirebon

Apabila ingin membawa pulang suvenir, kunjungi kawasan Pegajahan yang terletak di barat daya masjid. Di sana terdapat sentra kerajinan kayu topeng Babakan Cirebon. Berbagai pernik yang berkaitan dengan tari topeng Babakan, dari gantungan kunci hingga busana asli Topeng Babakan Cirebon dijual. Harganya Rp 3.500 hingga jutaan rupiah.


Pasar Kanoman Cirebon

Pasar Kanoman merupakan pasar rakyat yang berdekatan dengan Keraton Kanoman. Banyak sekali makanan khas Cirebon dijual di sini, di samping bahan-bahan kebutuhan rumah tangga. Jarak tempuh dari masjid 300 meter ke utara.


Jajanan

Tak mantap rasanya kalau jalan-jalan tanpa berwisata kuliner. Di depan gerbang masjid, tepatnya di sisi alun-alun Kesultanan Kasepuhan terdapat banyak warung makanan yang menghidangkan makanan khas Cirebon. Empal gentong, docang, serabi oncom, dan nasi lengko dapat dijumpai dengan mudah. Selain itu, masih ada sega jamblang, tahu gejrot, dan bubur sup yang tak kalah sedapnya.


Naik Apa Habis Berapa

Masjid Sang Cipta Rasa dapat ditempuh melalui jalur kereta api atau bus yang memiliki trayek ke Kota Cirebon. Jika menggunakan bus, turun di terminal, lalu naik angkot D8, dan turun di Pasar Jagasatru. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan naik becak sekitar 300 meter. Sementara, jika menggunakan kereta api, gunakan taksi yang mangkal di pelataran parki stasiun atau angkot D5 yang melewati Jalan Siliwangi. Turun di pertigaan Pasar Kanoman. Dari sana, lanjutkan perjalanan menggunakan becak sejauh 350 meter.

Berapa besar biaya yang dihabiskan bervariasi, bergantung pada titik keberangkatan. Kami naik KA Cirebon Ekspress kelas eksekutif dengan tarif Rp 110 ribu per orang. Lanjut angkutan umum dengan biaya Rp 3.000 per orang dan becak yang bisa mencapai 20 ribu.



Baca juga:
  1. Mengenal Kota Padang Panjang
  2. Legenda Dua Bocah Lelaki Di Musim Semi
  3. Rubah Yang Lapar

No comments:

Post a Comment