Thursday, February 16, 2017

Mengenal Kota Padang Panjang

Warna Warni - Seluruh manusia disana bergembira dalam sorak-sorak, bahkan jika jagoan mereka kalah sekalipun.


Kota Padang Panjang

Padang panjang adalah kota yang berbahagia. Di sana, ada batu kapur yang memberi hidup , sawah, sungai dan rel kereta yang kadang melindas orang mati. Padangpanjang memang berbeda dengan kota-kota lain. Di kota kecil ini di kaki Gunung Singgalang ini, tak seorang pun hidup dengan mati-matian.

Mereka hidup seenaknya. Berjalan boleh lenggang kangkung. Setiap hari, dari pagi sampai tengah malam, orang dapat duduk-duduk. Atau, bermain kartu di kedai sambil berutang segelas kopi, tanpa dapat muka masam dari si empunya kedai. Hingga, ke mana kita bertandang, perempuan atau gadis-gadis akan cepat-cepat menyediakan minuman bagi kita.

Mengenal Kota Padang Panjang

Begitu AA Navis mengenang kota kelahirannya di salah satu buku ceritanya. Padangpanjang di Sumatera Barat adalah kota kecil di kaki gunung. Kota dengan riwayat yang jauh terentang ke masa lalu. Pada abad ke 19, kota ini pernah menjadi kota transit perdagangan. Juga, menjadi meda penting bagi gerakan Islam yang dilakukan kaum padri di daratan tinggi Minangkabau. Pada awal abad ke-20, Padangpanjang menjadi pusat komunis. Para komunis lokal biasa datang ke Padangpanjang untuk mengadakan rapat-rapat umum. Dan, kini, ke sana saya akan berangkat.

Padangpanjang tak lebih dari 80 kilometer dari Kota Padang. Bus yang saya naiki berjalan lamban seolah tak hendak meninggalkan Padang. Setelah lepas dari batas kota, gunung-gunung menanti. Jalan menuju ke sana berliku di bibir Bukit Barisan yang panjang. Di sisinya, sungai nan jernih menjulang ke Lembah Anai. Di kiri kanan jalan, hutan bagai kain batik yang sambung menyambung. Sejuknya udara dalam mobil membuat saya tertidur.

Telah hampir dua jam saya di atas minibus. Sebentar lagi, mobil akan melewati Padangpanjang. Tapi, rasanya saya ingin meloncat saja dari atas minibus. Saya melihat air terjun Lembah Anai yang jernih dan beberapa orang yang mandi di bawahnya. “Pinggir sini, Pak,” seru saya pada sopir minibus. Air terjun Lembah Anai menggoda saya untuk turun.

Saya mendaki kira-kira 20 menit untuk mencapai puncak air terjun itu. Di atasnya, tersembunyi telaga jernih. Hawa hutan tropis sejuk menerjang. Saya membasuh muka, lalu turun sekenanya melihat air terjun di tingkat bawah. Perjalanan harus saya lanjutkan. Padangpanjang tidak lagi jauh dari sini, hanya selemparan baru. Setiba di Padangpanjang, cuaca semakin sejuk. Tak salah bila Taufik Ismail membuat rumah puisi di daerah ini. Rifai Apin, Sutan Syahrir, Huriah Adam, “memilih” tempat lahir di daerah ini. Seorang penulis Belanda pernah menilai Sumatera Barat ketika melewati Padangpanjang. “Saya tak habis pikir,” katanya suatu ketika. “Mengapa dari negeri seindah ini justru yang banyak lahir pemberontak?”


Ajang Pacuan Kuda

Sesampai di Kota Padangpanjang, seseorang menawarkan ojek dan saya meminta untuk diantar ke Bancah Lawen. Bancah Lawen adalah sebuah dusun kecil di bawah Bukit Tui, bukit kapur yang pernah menenggelamkan beberapa kampung di bawahnya. Sekarang, saya tak melihat para penambang kapur, seperti yang pernah saya lihat dalam potret hitam putih yang dipajang di sebuah kantor pemerintah. Saya hanya melihat gerombolan orang-orang dengan baju warna-warni.

Orang-orang berbaju penuh warna itu berbondong-bondong masuk. Mereka, seperti saya, ingin menyaksikan ajang pacuan kuda. Penonton pacuan kuda datang dari mana-mana. Ada yang datang dari Riau karena ada kuda dari Riau yang berani ikut pacuan. Lalu, ada rombongaon penonton dari Solok dan tempat lainnya. Semua searah menuju gelanggang.

Saya mengeluarkan kamera. Tak sabar ingin memotret gelombang manusia yang tumpah ruah di sini. Saya ikut antrean ribuan orang yang mau masuk gelanggang. Di tengah antrean, saya tersentak. Saya belum membeli karcis. Untuk kembali sangat susah. Antrean semakin padat. Satu tangan tiba-tiba memegang pundak saya. “Mana karcismu?,” katanya.

Ketika melihat saya dengan kamera menggantung, ia langsung mengira saya wartawan. “Wartawan tidak bayar, silakan masuk. Tapi, jangan lupa potret saya dulu, “ ujarnya.

Beberapa joki dan kudanya tampak sibuk melakukan pemanasan. Semua joki menunggang kuda tanpa pelana, sebab ini adalah pacu kuda tradisional. Gelanggang hiruk oleh penonton. Mereka berpakaian laiknya koboi Amerika dengan mengenakan topi koboi dan memegang buku jadwal pacuan serta satu pena. Tapi, kain sarung tetap terlilit di leher beberapa dari mereka. Berkelompok mereka mengelilingi kuda yang dijagokan. Memberi semangat.

Di tempat kadangan atau box-start, kuda sangat susah dimasukkan. Kuda kadang menyepak, mengeluarkan ringkik yang panjang. Setelah pintu pacuan dibuka, kuda menyepak lari. Penonton ribut. Seseorang disamping saya bertanya, kuda mana yang saya jagokan. “Jangan motret saja. Pilih jagoanmu,” seru dia.

Kuda-kuda yang berpacu di meda laga itu diberi nama yang cantik dan uni, Lady Johana, Histori, Lenggogeni, Mahligai, Princes Diamon. Semua bernomor punggung seperti pemain bola. Kali ini adalah kelas B, kelas bergengsi. Artinya kuda yang akan bertanding adalah kuda dengan tinggi 153 cm atau lebih. Sebelumnya, kelas C tampil. Kudanya memiliki tinggi 148 cm sampai 152,9 cm. Sebelumnya lagi, kelas D dan E yang kudanya hampir susah dibedakan dengan keledai, yaitu dengan tinggi kuda di bawah 142,9 cm.

“Ayo, Sembilan! Jangan cuma beringsut seperti keledai!” seorang ibu muda berteriak sambil menggendong anak. “Iya, nomor sembilan, nomor sembilan!” teriak saya tak mau kalah seperti penonton lainnya.

“Sembilan itu kuda sial! Kakinya saja hampir bengkok. Jangan itu. Nomor tiga saja. Sama seperti saya, ‘ kata seorang bapak dari arah lain setengah memaksa. Dan, saya setengah tertawa. Lalu, ia merogoh kantong, mengeluarkan buku, dan memberi beberapa tanda di buku itu.

Buku itu sepertinya daftar pacuan kuda. “Basah saya kali ini, “ kata lelaki itu dengan mata berbinar. Basah maksudnya, barang kali, adalah dia menang taruhan. Dan, mendapat banyak uang.

Telah lima pertandingan hari ini. Kuda yang menang langsung digiring dan dihadapkan ke panggung panitia untuk penyerahan hadiah pada kuda dan jokinya. Joki mendapatkan piala dan kuda dipasangi pita oleh pejabat-pejabat kabupaten. Tak ketinggalan pula calon gubernur yang akan ikut pemilukada dalam waktu dekat siap-siap pula mengalungkan pita bagi pemenang. Ada pemberi hadian yang disepak oleh kuda. Ada yang hampir digigit. Namanya juga kuda, menyepak dan menggigit semaunya saja.

Pengeras suara lalu tak henti-henti melarang penonton tidak mendekat ke sasana tempat kuda berlari. Baru saja pengumuman dikumandangkan, dua orang telah diinjak kuda. Kuda setinggi 1,6 meter lebih itu masuk ke area penonton. Ia dengan semena-mena melunyah-lindah penonton.

Dua penonton segera dilarikan ke ambulans yang telah disediakan oleh panitia. “Apa saya bilang, penonton tolong jauh dari lintasan, saudara-saudara!” teriak suara dari ujung pengeras suara. Setelah korban luka diangkut ke rumah sakit, penonton kembali meringsek ke arah lintasan. Seperti sedia kala, pengeras suara mengeluarkan teguran yang sama. Kuda-kuda pun kembali masuk ke arena pacuan. Siap untuk diadu kecepatannya.    



Baca juga:
  1. Legenda Dua Bocah Lelaki Di Musim Semi
  2. Rubah Yang Lapar
  3. Pesan Dibalik Tawa Manusia Duyung

No comments:

Post a Comment