Skip to main content

Pesona Pulau Lingga, Riau, Bunda Tanah Melayu

Warna Warni - Halo teman-teman kali ini kita berkunjug ke Pulau Lingga yang terdapat di daerah Riau Kepulauan. Langsung saja yuk kita simak liputannya pada video di bawah ini,



Untuk versi teksnya bisa dibaca di bawah ini,

Pulau Pandan jauh di tengahGunung Daik bercabang tigeHancur badang dikandung tanahBudi baik dikenang juga

Tak akan lekang kisah Gunung Daik ini di tanah kelahiranku. Kisahnya sering muncul di pantun-pantun melayu. Sejak ratusan tahun lalu Daik yang menjadi tande kalau di kakinya ada kampungku, Lingga.

Dalam bahasa Tiongkok Ling artinya naga dan ga artinya gigi. Bentuk puncak Daik yang seperti gigi inilah yang kami percaya sebagai asal mula Lingga. Seperti kisah Gunung Daik yang sudah berumur tak salah sebutlah kalau Lingga pun punya kisah berumur panjang.


Pulau Lingga Riau Kepulauan

Lingga nih pulau kecil bagian dari provinsi kepulauan Riau. Tersohor dengan sebutannya Bunda Tanah Melayu. Ini bukan sebutan sembarang, julukan nih diberikan oleh ASEAN tahun 1999 kemarin. Tak asal pula kami bisa dapat nama itu. Itu karena disini pernah berdiri kesultanan Lingga yang tersohor sebagai kerajaan Melayu besar masa lalu.

Oh iya hampir lupa, kenalkan namaku Hasbi, pekerjaanku ini wartawan, baru saja jalan satu tahun aku bekerja. Sebelumnya pun sempat aku kuliah 7 tahun lamanya di Jogja. Ambil jurusan etnomusikologi di Institut Seni Indonesia. Tak banyak-banyak mulut, selesai kuliah saya hanya ingin kembali dan membangun Lingga. Hari ini saya nak sambangi rumah adat Melayu Lingga. Sebut saja LAM. Anggotanya adalah orang yang paham soal adat dan budaya Melayu. Termasuk kasih masukan dan solusi kalau ada masalah soal adat di tengah masyarakat.

Bahkan orang mengatakan hidup bersimpuh adat mati berkafan iman. Kenape? Memang di dunia ni adat ape kan, walaupun kan nanti kita mati kan amal.


Mantu Khas Lingga, Riau

Seiring majunya jaman, jangan sampailah kami melupakan adat istiadat. Berpakaian pun kami punya ciri khas, warisan sejak zaman kesultanan yang masih digunakan hingga sekarang.

Ini semua supaya orang-orang yang baca tulisanku mengerti kalau adat memang tak akan bisa lepas dari kesultanan kami, termasuk mantu yang dipakai ibu ni.

Itu sebagai penande salah satunya memang.. Mantu itu artinya tudung atau tutup kepale.

Dulu warna mantu memang terbatas, mudah membedakan status dari warna mantunya. Tapi kalau sekarang sudah tak pakem lagi warna-warna begitu. Siapapun boleh pilih mau pake warna ape. Siapapun pun boleh pilih mantu, tapi tata cara pakainya tetap jangan dilupakan ya, karena melambangkan kemewahan. Biasanya mantu hanya dipakai kalau ada besar seperti hajatan atau pernikahan. Benang perak yang dipakai tak pernah berganti dari zaman kesultanan dulu, begitu pule dengan motifnya yang punya makna masing-masing.

Pesona Pulau Lingga, Riau, Bunda Tanah Melayu



Motif Itik Pulang Petang

Adalah motif yang melambangkan kebersamaan dan kekompakan.

Motif Awan Larat

Adalah motif yang melambangkan kemampuan untuk menempatkan diri.


Harga Mantu

Harga mantu pun cukup mahal, satu helai bisa dihargai paling murah Rp 800ribu. Ya pantas saja karena proses pembuatannya pun perlu waktu tiga minggu paling cepat. Percaya tak? Harganya bisa sewaktu-waktu melambung tergantung dolar Singapura, soalnya bahan baku memang didatangkan dari sana. Makin mahal harga bahan maka makin naiklah harga mantu.

Para emak ini memang lihai membuat mantu. Tapi baru awal tahun 2000an, beberapa mulai bergerak menjadi pengrajin, sekarang mantu sudah menjadi home industri kebanggaan Lingga. Tak ada tempat lain yang bisa membuat mantu serapi dan sebagus di sini.


Pusat Kota Lingga di Daik

Pusat kota pulau Lingga tu, adanya di Daik. Penduduknya pun tidak banyak, hanya sekitar lebih kurang 15ribu jiwa, makanya suasananya pun tenang dan jauh daripada bisingnya kota. Tapi ndak adalah itu kata bosan, sebab tak akan habis awak nak lihat arifnya hidup di sini. Misalnya saja di Daik ini, hampir semua berkerabat, payah betul kalau tak saling kenal. Itu karena sudah turun temurun. Kami tinggal di dalam satu daerah begini. Makanya anak cucu pun kenal pula lah.

Kalau sedang tak ada kerja liputan, saya sempatkan bertemu ke rumah saudara. Kali ini saya nak bertamu ke rumah Makci Asia.

Apa kabar kuliahnya? Di Jogja Makci kuliahnya. Rumah yang sekarang ditempati Makci ini merupakan salah satu yang tertua di Lingga, usianya sudah hampir 200 tahun.

Kalau bertamu ke rumah orang Melayu pastilah awak disuguhi minuman manis. Semua itu spesial tak peduli apa pun jabatannya. Coba bayangkan kalau saya bertamu ke lima rumah lainnya, Insya Allah pasti kenyang.


Dapur Tradisional Orang Melayu

Ini yang masih bisa awak lihat di depan dapur awak Lingga. Dapur tradisional orang Melayu, dapur tungku. Dapur ini punya makna kesederhanaan, ah saya jadi ingat lamu masih kecil dulu. Wangi ikan sloki asap dan suasana dapur ini betul-betul membuat saya rindu.

Dapur Tradisional Lingga

Karena bapak dari Makci ini keturunan bangsawan maka bentuk rumah pun berbeda. Paling mudah dilihat itu dari bentuk atap yang seperti limas. Kalau kami di sini sebutnya kuda berlari.

Barang-barang peninggalan pun masih disimpan dengan baik. Itu semua karena kami semua menghormati nenek moyang dan semua ajarannya agar kelak generasi muda ini tahu sejarah dan silsihan pendahulu mereka juga.

Cobalah tengok ranjang besi antik milik almarhum bapaknya Makci, tak pernah bergeser dari situ. Jangan heran kalau nak bertamu orang Melayu yang ditanyakan itu bukan banyaknya harta atau barang yang kalian punya. Mereka pasti tanya, berapa banyak anak yang kalian punya, makanya ranjang ini disebut peraduan. Inilah ciri yang paling kuat dari Melayu Lingga, paling tak mau sombong harta yang dia punya.


Permainan Gasing Berembang

Tak hanya rumah adat yang masih lestari di Lingga ini, permainan layar pun begitu. Kalau sore hari masih mudah nak jumpa yang begini. Beda sangat dengan di kota, ini disebut gasing berembang betine, karena dipake pertama kali tanding untuk melihat siapa yang paling cakap melempar. Barulah kalau sudah tahu pemain melempar gasing yang kedua. Dan seterusnya sampai salah satu gasing pecah. Semakin lama putarannya maka semakin besar pula nilai yang di dapat.

Ini permainan pun sudah sangat lama ada di Lingga. Malah sejak kesultanan berdiri abad ke-19. Dulu anak-anak di istana pun memainkan gasing, jadilah permainan ini bukan milik siapa-siapa tapi milik semua. Saya percayalah takkan sulit menjaga warisan kalau kaum muda sudah biasa dan mau pula untuk melestarikannya.


Masjid Jami Sultan Lingga

Kehidupan di Lingga ini pun bisa kuat sampai sekarang salah satunya karena faktor agama yang kuat. Masjid ini dibangun tahun 1800 M waktu jaman pemerintahan Sultan Mahmud Liatsyah, Sultan Lingga I. Inilah mesjid kebanggaan kami, saya pun selalu sempatkan waktu untuk berdoa di sini. Bangunan mesjid ini dapat inspirasi dari arsitek semasa kesultanan, dia orang Lingga juga.

Masjid Jami Sultan Lingga

Tak ada tiang penyangga di dalamnya. Inilah yang jadi ciri khas masjid Sultan, tak hanya itu mimbar imam pun unik, mimbarnya dibuat di negeri Semarang dan punya kembaran dengan yang ditaruh di masjid Pulau Penyengat, Tanjung Pinang.

Berkembangnya Islam di Lingga pun tak hanya dari syiar agama saja, masyarakat Lingga pun dapat pelajaran mengenai adat dan nilai kehidupan dari kesenian. Cobalah kamu tengok kamu punya kesenian, ini namanya bangsawan, seni pertunjukan yang tidak pernah lewat kami adakan kalau ada acara besar, seperti malam peringatan 17 Agustusan inilah.

Nama bangsawan sendiri diberikan oleh seorang seniman dari Bineng, sekitar abad ke-19. Itu karena cerita yang dibawakan soal kehidupan raja atau istana. Beda dengan permainan sandiwara lain, bangsawan tak ada sutradaranya, cuma para pemain haruslah pandai beraksi dengan bakat alam yang dimiliki.

Bangsawan tanpa musik latar itu rasanya seperti musik mati. Maka itulah saya dan kawan-kawan dari sanggar yang iringi, setiap ada pertunjukan kami selalu berganti peran, tak haruslah sama permainannya.

Kebetulan malam ini saya pegang program musiknya. Yang penting kami tetap bekerjasama dan bisa sukses dilihat dan didengar.


Tanaman Sagu Di Lingga

Kebesaran kesultanan Sultan Melayu Lingga ini tak hanya soal adat dan agama saja, tapi ekonomi juga dipikirkannya. Maka dibawalah tanaman sagu sekitar abad ke-18 oleh Sultan Sulaeman Badrualamsyah II. Sementara bibitnya didatangkan dari Maluku.

Tanah di Lingga ini memang lembek dan banyak rawa-rawa maka tak cocoklah padi tumbuh di sini, darisitulah ide Sultan untuk mendatangkan sagu agar rakyatnya punya pekerjaan. Pekerja sagu Lingga adalah profesi yang sama tuanya dengan kesultanan. Bahkan sampai sekarang pun masih banyak masyarakat yang menjadikan sagu sebagai mata pencaharian utama.

Pohon sagu di sini dibiarkan saja tumbuh sendiri, tak ada perkebunan apalagi pengusaha besar. Pohon sagu yang siap ditebang yang usianya di atas 5 tahun. Walau hampir tiap hari ditebang, pohon sagu di sini tidak pernah ada habisnya.

Sagu yang sudah dipotong pun siap dibawa ke tempat pengolahan. Mengolah sagu sebenarnya tak sulit sangat hanya tinggal dibersihkan kulit luarnya saja dan potong batang jadi kecil-kecil. Kulit sagu pun tak akan kami buang, masih bisa kami pakai sebagai kayu bakar.

Sentra Pengolahan Sagu Lingga

Habis itu bisa langsung dimasukkan ke mesin pencecah supaya sagu bisa langsung disaring dan dapat sarinya.

Kalau kapasitas bak yang jumlahnya sampai 10 ton ini sudah penuh, barulah bisa ke proses selanjutnya, yaitu pengendapan dan pembersihan supaya sagu yang bersih itu bisa didapat. Sampai sagu basah siap jadi tepung bisa makan waktu sampai dua hari sendiri, makanya kalau stock lagi habis, bisa sampai dua minggu pabrik ini tak kerja.

Rupa-rupa makanan dari sagu ini tak sulit ditemui. Yang paling khas namanya bubur lambok, tak sulit pula buatnya. Tapi soal rasa, dijamin tak akan awak temukan di tempat lain. Sayur rampaek atau beberapa jenis daun ini yang jadi andalan kalau buat lambok, ada daun bayam, selasih juga daun pakis.

Beda-beda tergantung sama yang masak, mau pake daun apa saja. Tapi jangan sampai pula ketinggalan bahan bumbunya yang tak kalah mantap, ikan tamban. Ini yang buat rasa bumbu semakin harum dan mantap.

Nasi sudah tergantikanlah di sini, untuk membuat lambok kami memakai sagu lenggang. Inilah hasil dari pangak laut, kami tak ragu lagi sama kemandirian pangan kami. Pantaslah kalau masa kesultanan kami sudah sangat dikenal sebagai pemasok sagu di Nusantara.

Yang buat rasanya jadi beda ya cicilah rasa Melayu khas asli. Tak akan sama walau awak temui di luar Lingga, budaya makan bersama pun masih melekat kuat di sini, merasakan nikmatnya makanan rumah, bersama orang-orang terdekat. Saya pun bertekat inilah yang akan saya teruskan pada khalayak banyak agar kami bisa tularkan kearifan hidup nilai Melayu Lingga.

Gambaran kuatnya hidup kami sejak zaman kesultanan hingga sekarang. Bolehlah saya nak jumpa dengan kawan-kawan dari macam-macam daerah. Saya pintar ilmu dan pergaulan pun luas, tapi tak akan pernah lupa dengan tanah kelahiran, Bunda Melayu yang tersohor sampai ke negeri sebrang.

Lingga di gugusan kepulauan Riau tempat saya tambakan hati. Indonesia bagus!


Nah sampai ketemu lagi dengan sharing mengenai wisata Indonesia yang lainnya, kalau suka dengan video tersebut jangan lupa SUBSCRIBE di youtube channelnya ya dan jangan lupa juga sharekan yang lainnya juga ya.



Baca juga:
  1. Indahnya Wisata Pantai Klayar Pacitan Jawa Timur
  2. Wisata Raja Ampat Papua
  3. Wisata Pulau Tengah Karimun Jawa

Popular posts from this blog

Perjalanan Hidup Bob Sadino

 Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lloyd di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indon…

Marie Tussaud : Kisah Pengukir Lilin Yang Mengabadikan Tokoh Dunia

Mendengar nama Madame Tussaud's, kita langsung terbayang museum penuh patung lilin yang wajib dikunjungi. Meski sang pendirinya menyimpan sebuah kisah kelam, jaringan museumnya senantiasa menawarkan kegembiraan dan inspirasi.
Hidup Marie Tussaud berawal ketika ia lahir dengan nama Anna Maria Grosholtz pada 1 Desember 1761, di tengah keluarga miskin di Perancis. Lingkungannya begitu miskin hingga orang-orang disana biasa menjual gigi mereka agar bisa membeli makan. Ayah Marie adalah seorang tentara, namun ia harus tewas terbunuh di tengah medan perang dua bulan sebelum putri kecilnya lahir. Sang ibu yang menjanda kemudian pergi ke Swiss untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter bernama Phillipe Curtius. Dokter yang baik hati ini mengizinkan ibu Marie dan bayi perempuannya untuk tinggal di rumahnya. Sebagai seorang dokter, Curtius memiliki minat yang tidak biasa pada seni ukir lilin. Mulanya…

Kisah Louise Braille

Bagi kaum tunanetra sosok Louis Braille ini ibarat sosok Prometheus. Berkat perjuangan dari Louis Braille dalam menciptakan huruf yang kini kita kenal dengan huruf Braille ini Louis Braille membuka banyak mata para kaum tunanetra sehingga bisa 'melihat' dunia melalui tulisan. Mari kita simak kisah hidupnya..

Prometheus dalam mitologi Yunani adalah titan yang mencuri api milik para dewa yang kemudian diberikannya kepada manusia agar manusia bisa mengembangkan peradaban. Karakter kepahlawan yang seperti Prometheus ini bisa kita jumpai pada diri Louis Braille ini.

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Simon Rene Braille, seorang kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya.

Pada 4 Januari 1809, lahirlah seorang anak terakhir dari keluarga Simon Rene Braille, yang diberi n…